
Jakarta - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tengah menyiapkan beberapa regulas terkait kebijakan khusus demi memenuhi target pencapaian pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT). Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi semakin menipisnya ketersediaan energi fosil.
“95% suplly energi masih didominasi energi berbasis fosil seperti batubara, gas, dan minyak,” kata Plt Menteri ESDM, Luhut Binsar Panjaitan dalam the 15th World Renewable Energy Congress, seperti dikutip dariesdm.go.id, Rabu (21/9/2016).
Luhut menjelaskan pentingnya pengembangan EBT sebagai penggerak laju perekonomian Indonesia di masa mendatang. Beberapa kebijakan yang akan diimplementasikan untuk menunjang pengembangan EBT, yakni mencampur 20% biodiesel di semua sektor dan 30% akan diterapkan di listrik.
Kemudian, menjanjikan feed-in tariff bagi EBT berpasitas kecil dan menyediakan subsidi listrik berbasis EBT yang dibeli PLN. Tak hanya itu, pemerintah juga menyediakan instrument fiskal seperti pajak insentif.
Selanjutnya, pentingnya kampanye energi secara masif dan kewajiban atas labeling untuk peralatan listrik untuk rumah tangga. Terakhir, memperkenalkan paket yang meningkatkan ekonomi berbagai kemudahan hal untuk melakukan bisnis di Indonesia.
Sekedar untuk diketahui, WREC merupakan forum pertemuan dua tahunan para ilmuwan, pembuat kebijakan, pakar, pemimpin bisnis dan industri, organisasi masyarakat madani, operator, investor dan lembaga keuangan, organisasi donor internasional yang terlibat dalam upaya global untuk mendorong peningkatan pemanfaatan energi bersih dan terbarukan.
Dalam acara tersebut, tampak hadir Dirjen EBTKE, Rida Mulyana, Ketua Pelaksana, Herman Darnel Ibrahim, Ketua METI, Duta Besar New Zealand, Kanada, dan Itali serta perwakilan dari Kadin. (*) Albi Wahyudi
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU