
Jakarta – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengakui kalau Indonesia masih memiliki banyak minyak yang tersisa. Namun teknologi di Indonesia kurang menunjang dalam pengangkatan minyak di dalam perut bumi.
Hal tersebut dijelaskan oleh Wakil Menteri ESDM, Arcandra Tahar saat memberikan kuliah umum di Universitas Negeri Padang (UNP) pada Kamis kemarin.
"Oil masih tersedia, tapi teknologi sekarang hanya mampu mengambil 40-50% dari oil yang ada," jelas Arcandra.
Lebih jauh Arcandra menjelaskan bahwa produksi tingkat pertama (primary production) dalam produksi minyak hanya mampu mengambil maksimal 20-30%. Kemudian secondary production, hanya mampu mengambil minyak 5-10%.
“Teknologi yang paling canggih sekarang, itu hanya bisa mengambil 5-10% setelah secondary production,” tandasnya.
Teknologi menjadi aktor utama dalam pengambilan minyak dari perut bumi. Arcandra menambahkan bahwa peran teknologi agar bisa mengambil sisa minyak dengan maksimal itu sangat penting. Namun hingga kini, belum ditemukan teknologi yang bisa mengambil minyak 100%.
Sehingga dalam kuliah yang diberikan, Arcandra menyampaikan, jika dikatakan minyak sudah habis, dilihat dari segi pengamatan teknologi, minyak tidak akan habis hingga ditemukan teknologi yang bisa mengambil minyak sampai tuntas.
“Karena minyak yang tersisa itu jauh lebih banyak daripada yang sudah diambil,” imbuh Arcandra.
Tak hanya sampai disitu, teknologi juga merupakan salah satu komponen strategi untuk kemandirian bangsa, bersama dua komponen lainnya, yakni people dan process. “Strategi untuk membangun kemandirian bangsa terdiri dari 3 poin utama, yaitu teknologi, masyarakat atau kompetensi, dan proses,” tutup Arcandra. (*) Albi Wahyudi
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU