
Jakarta – Pemerintah Indonesia dan India siap meningkatkan kerjasama ekonomi di bidang investasi industri khususnya sektor farmasi. Kerjasama ini dilakukan untuk mengurangi ketergantungan bahan baku impor.
Kesepakatan bilateral dua negara ini merupakan buah pertemuan Presiden RI Joko Widodo dengan Perdana Menteri India Narendra Modi di New Delhi, India, Selasa (13/12).
”Hubungan diplomatik Indonesia dan India terjalin lebih dari 60 tahun. Kemitraan bilateral ini akan diperkuat melalui kerja sama di bidang investasi dan perdagangan. Apalagi kedua negara memiliki visi yang sama untuk membangun industri yang berdaya saing di pasar global,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto di New Delhi, India, dikutip dari kemenperin.go.id, Rabu (14/12/2016).
Untuk menindaklanjuti pertemuan kedua negara, Airlangga bersama Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita melanjutkan pembahasan yang lebih mendalam melalui audiensi dengan Menteri Perindustrian dan Perdagangan India, Nirmala Sitharaman.
Dalam kunjungan kerja ke India, Airlangga didampingi Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Haris Munandar.
Airlangga menekankan beberapa poin terkait kerja sama industri farmasi. Salah satunya dengan pemerintah India diharapkan dapat mengirimkan kelompok kerja untuk membantu memetakan kebutuhan industri farmasi di Indonesia.
”Kami juga mendorong adanya pertukaran expert dan penguatan pelatihan vokasi antara Indonesia dengan India khususnya di industri farmasi,” tuturnya.
Sekedar informasi, Indonesia masih memerlukan bahan baku obat yang selama ini mayoritas dipasok dari Tiongkok dan India.
Dengan peningkatan kerja sama di sektor ini, Indonesia berharap dapat mengurangi ketergantungan bahan baku impor dan memacu pengembangan daya saing industri farmasi nasional.
”Untuk itu, kami meminta agar proses pengurusan approval di BPOM agar lebih business friendly bagi industri farmasi, khususnya kemudahan memperoleh izin bila industri telah mendapatkan sertifikasi internasional,” jelas politikus Golkar itu.
Menperin juga mengajak pengusaha India untuk turut mendorong penguatan industri pembangkit listrik tenaga surya di Indonesia. Apalagi, pemerintah Indonesia telah menerapkan regulasi Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) yang lebih mudah.
”Semoga para pelaku industri di Indonesia dapat bergabung dengan Solar Alliance,” jelasnya
Selanjutnya, Airlangga mengapresiasi baik peluang kerja sama kedua negara di sektor industri teknologi informasi. Upaya ini diharapkan sebagai salah satu upaya strategis untuk menghadapi era globalisasi dan Industri .
”Selain itu, kami mendorong industri otomotif Indonesia dan India dapat bersinergi untuk memperkuat global value chain,” ujarnya. (*) Albi Wahyudi
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU