
Jakarta - Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di Luar Negeri menganggap, pemerintah kurang konsisten terhadap suplai listrik di tanah air yang semakin terasa ketika kebutuhan suplai listrik semakin besar dan tidak diimbangi dengan masukan daya listrik.
“Ini khususnya sering terjadi di daerah-daerah luar Jawa yang belum tereksplorasi secara penuh dengan kapasitas listrik terbatas dan sangat minimnya fasilitas infrastruktur (pembangkit listrik daya kecil dan menengah)” kata Tim Kajian Nuklir PPI Dunia,R. Andika Putra Dwijayanto, Senin (16/1/2017).
“Utamanya, karena komponen sistem pembangkit yang sudah termakan usia sehingga mengalami derating, kurang handal dan efisiensi yang kurang signifikan”.
Di dunia pendidikan, menurut Andika, terputusnya listrik dapat sangat mengganggu proses belajar-mengajar dan berlangsungnya proses penelitian. Kala ini, banyak tenaga pendidik yang menggunakan alat bantu mengajar dalam bentuk digital, baik itu presentasi powerpoint ataupun laser projector.
Pada kasus lainnya, tambah Andika, pada fasilitas umum seperti rumah sakit dan bandara, sebagian besar peralatan bantu yang digunakan harus tersambung dengan suplai listrik dengan asupan daya yang cukup besar dan stabil. Begitu pula di sektor industri, bayangkan kerugian yang diperoleh ketika proses produksi harus terhenti sejenak karena fluktuasi atau terputusnya asupan daya listrik atau proses transisi ketika penggunaan generator pada sebuah industri.
“Masalah ini menjadi perhatian utama, mengingat segala hal bisa terkait dengan resiko kematian. Oleh karena itu, wajarlah jikalau masyarakat membutuhkan suplai listrik yang reliabel dan minim sekali byar-pet,” kata Andika. Albi Wahyudi
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU