
Jakarta - Akademisi Universitas Andalas Benny Dwika Leonanda meminta Pemerintah RI agar mewaspadai ekonomi Indonesia bakal terancam memburuk pada masa datang karena dipengaruhi gejolak ekonomi dunia yang penuh ketidakpastian.
"Kini bahkan para analis justru sulit memperkirakan kemana arah pergerakan ekonomi dunia saat ini, dan juga berdampak ekonomi Indonesia menjadi lesu," kata Benny, saat dihubungi dari Pekanbaru, Selasa, (19/7/2016).
Pendapat demikian disampaikannya terkait kondisi ekonomi Indonesia kini dalam keadaan stagnan, namun di lain pihak pasar modal Indonesia fluktuatif, mengikuti naik turun nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
Menurut dia, bergejolak ekonomi dunia lebih dipengaruhi pascareferendum rakyat Ingris untuk keluar dari Masyarakat Ekonomi Eropa (MEE) pada 23 Juni 2016.
Ia menjelaskan bahwa rakyat Inggris lebih memilih keluar (brexit) dari masyarakat Uni Eropa dengan perolehan suara 51,9 persen suara, dan 48,1 persen suara memilih bertahan (bremain).
"Hasil pemungutan suara tersebut telah mengakibatkan ekonomi terguncang dan tidak terkendali. Pasar saham dan mata uang Inggris, poundsterling, dan mata uang Eropa (Euro) jatuh kepada titik terendah, terutama Inggris sampai dengan ke posisi 31 tahun terakhir," katanya lagi.
Gejolak ekonomi dunia ini, katanya lagi, bisa berdampak ekonomi Indonesia memburuk pada masa datang, kendati pasar modal Indonesia menjadi "booming" saat ini di tengah membaik nilai tukar rupiah, akan tetapi pelarian modal keluar negeri dari bursa saham dalam negeri bisa saja menghancurkan ekonomi Indonesia seperti tahun 1997/1998.
Kini, dampak efek brexit Inggris tersebut, menurutnya, juga merambah Indonesia ditandai antara lain sebulan terakhir "Jakarta Composite Index" justru mengalami kenaikan sebesar 6,93 persen ke angka 5,110.178, mengikuti kenaikan pasar saham Asia yang rata-rata di atas 5 persen.
"Kondisi efek brexit Inggris patut diwaspadai apalagi terhadap kebangkitan ekonomi China yang bisa mempengaruhi Indonesia ditandai dengan kenaikan pasar modal Shanghai "composite index" namun nilai tukar Yuan diprediksi terus turun di masa datang," katanya.
Jika depresiasi nilai tukar Yuan terhadap dolar Amerika Serikat ke angka 7 dan mungkin saja Yuan China mendekati angka 8 per satu dolar AS seperti tahun 2005, bisa dipastikan produk-produk China membanjiri Indonesia.
Produksi Indonesia kalah bersaing, karena mahal ongkos produksi dalam negeri sehingga Indonesia akan terus merugi.
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU