
Jakarta – Kementerian Perdagangan bertekad menjadikan Indonesia sebagai kiblat busana muslim dunia pada tahun 2020. Plt. Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) Kemendag, Tjahya Widayanti, optimistis tekad tersebut dapat terwujud mengingat Indonesia memiliki potensi yang besar sebagai trend setter industri mode muslim global.
“Tren produk fesyen (termasuk busana muslim) pada periode 2011-2015 menunjukkan nilai positif sebesar 8,15%. Sementara itu dari segi volume ekspor, terdapat peningkatan pada Januari 2016 sebesar 3,87% dibandingkan periode yang sama tahun 2015,” jelas Tjahya dalam siaran persnya, Kamis, (19/5/2016).
Tjahya menuturkan pada 2014, kinerja ekspor produk busana muslim sebesar USD 4,63 miliar dengan tren pertumbuhan ekspor 2,30%. "Pada 2015, kinerja ekspor produk busana muslim berhasil menembus USD 4,57 miliar. Sedangkan pencapaian di Januari 2016 mengalami peningkatan 2,13% dibandingkan dengan Januari 2015 dari USD 366,2 juta menjadi sebesar USD 374 juta. Kami optimis, tren ini akan terus meningkat," ujarnya.
Tjahya juga mengungkapkan, busana muslim sebetulnya belum memiliki Kode HS yang baku. Hal ini membuat kinerja ekspor produk busana muslim dicatat berdasarkan hasil pengelompokan rekomendasi Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan Kemendag. Kode HS untuk produk busana dengan kriteria panjang (menutupi seluruh tubuh) dan berbahan tebal (tidak tipis), yaitu HS 6203, HS 6204, HS 6104, HS 6206, HS 6205, HS 6201, HS 6103, HS 6105, HS 6106, HS 6101, HS 6102, dan HS 6202.
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU