Login

Username / Email :
Password :
Forgot Password Sign Up
Belum memiliki akun? Daftar Sekarang!
Close [x]
Nasional

Quo Vadis Jember Pasca Pandemi Covid-19

Cakrawala Daerah
05 Jun 2020
Quo Vadis Jember Pasca Pandemi Covid-19

hariansuara.com, Jember – Pandemi Covid-19 membawa dampak sangat luas ke seluruh dunia, tak terkecuali Kabupaten Jember. Posisi ekonomi setempat yang menempatkan posisi Jember di tingkat kemiskinan tertinggi kedua, tentu makin menyulitkan warganya.

Baru lalu ada kisah Sudiye, janda tua tinggal di kawasan Pattimura, Kelurahan Jember Kidul, Kecamatan Kaliwates, yang sempat viral lantaran ditolak Bupati untuk membantu, tetapi justru Gubernur Khofifah yang mengulurkan bantuan untuknya. 

Kabar terkini, Pemkab Jember akhirnya mau memberikan bantuan kepada Sudiye. Meski dalam kondisi membutuhkan, ia ikhlas berbagi dengan tetangganya, perempuan lansia juga dan sama-sama dhuafa bernama Sudarti. Karena hanya mendapat 1 paket bantuan, maka sesuai arahan Ketua RW 208 Agus Sumardiono, maka Sudiye dapat uang Rp600.000 dan Sudarti sembako. Kedua perempuan itu pun bisa tersenyum bersama-sama.

Menelusuri ke sekitaran Jember Kidul, ternyata Sudiye dan Sudarti tak sendiri. Masih banyak warga lansia yang hidup mengenaskan. Sebut saja, Karimun (78). Kondisi fisiknya telah lemah, sehingga tak kuat lagi ngernet seperti 20 tahun lalu dilakukannya untuk menyambung hidup. Mirisnya, ia tak pernah memperoleh bantuan dari pemerintah. Sampai-sampai Ketua RT05 setempat, Seniman namanya, ke sana-sini coba mencarikan bantuan terdampak Covid-19 tersebut untuknya, tapi selalu nihil.

Karimun mengaku maunya bekerja dan malu merepotkan tetangganya. Tapi fisiknya sudah menyerah, sehingga mau tak mau ia hidup dari belas kasihan tetangga. Setiap hari ada saja yang datang bergantian membawakannya makanan. Tapi Tuhan Maha Pemberi Rezeki, maka suatu kali salah seorang tetangga mendapatkan bantuan sembako dari pemerintah. Tapi, ia merasa tak berhak menerimanya, maka sembako bantuan itu pun diberikan kepada Karimun. 

Kata Ketua RW 028, Agus Sumardiono, warga seperti Karimun, Sudiye dan Sudarti masih ada belasan orang. Hanya 6 orang yang terbantu. Tetapi salah satunya tak bisa mencairkan uangnya, lantaran NIK (Nomor Induk Kependudukan) di KTP dengan database yang ada di kantor pos berbeda. Tambah kusut permasalahan yang dihadapi rakyat kecil. 

Foto: sutrisno/Nusadaily.com
Bu Toli & Karimun/ Foto: sutrisno/nusadaily.com

Juga disayangkan, pelaksanaan pemberian bantuan pemerintah yang meleset. Warga yang tak tergolong ‘mesti ditolong’ justru tidak menerima paket bantuan. Memetik pelajaran dari kasus cekcok mulut pada tulisan tentang Sudiye kemarin, kesalahan terletak pada pemakaian database warga tahun 2011. Jadi, sudah kadaluwarsa. Dalam rentang 9 tahun tentu banyak hal mengalami perubahan, termasuk mana warga yang karena banyak sebab akhirnya termasuk rakyat miskin.

 

Quo Vadis Jember Pasca Pandemi Covid-19? 

Permasalahan rakyat kecil di Jember tak berhenti sampai di situ. Ada temuan, bahwa bantuan sembako dan uang Rp100.000 hanya 1 kali diterima warga. Kemudian terus ke tingkat desa, seperti di Desa Patemon, Pakusari, kondisinya juga menyedihkan lagi.

Adalah Ibu Toli, sapaan janda tua yang diperkirakan sudah berusia 100 tahun. Sejak awal 2020, ia tak lagi menerima bantuan. Disetop, jelas Ribut Supriadi, aktivis pekerja sosial, yang selama ini dengan sabar merawat lansia malang itu. Ketika dicari keterangan dari Dinas Sosial, ternyata anggaran untuk itu tidak ada lagi, karena tak disahkannya Perda APBD (Anggaran Pendapat Belanja Daerah) 2020. Pemerintah Kabupaten pun hanya punya anggaran rutin. 

Terlepas dari itu semua, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data tentang profil kemiskinan Kabupaten Jember 2019 pada 2 Januari 2020. Persentase jumlah penduduk miskin dari semula pada 2018 sebesar 9,98 persen turun 0,73 poin persen menjadi 9,25 persen pada 2019. Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menjadi pembicara di acara Inspiring Lecture Series Studium General di Universitas Jember pada September 2018. Di Jawa Timur ada 5.674 desa dan angka kemiskinannya tertinggi di Indonesia. Diperlukan pendekatan tersendiri untuk mencari jalan keluar pengentasan kemiskinan di masing-masing daerah. Dengan arti lain, perjuangan harus terus dilakukan. 

Yang menjadi pertanyaan, dengan adanya pandemi CoVvid-19, quo vadis Jember?

Satu hal yang akan dihadapi, seperti ulasan Dr. Yulia Indrawati, pengurus ISEI (Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia) Cabang Jember, dosen dan peneliti Kelompok Riset Benefitly FEB Universitas Jember dalam tulisannya bertajuk Pandemi dan Kemiskinan Baru. Indonesia, tentunya sampai ke desa-desa, dibayangi oleh kemiskinan baru. Untuk mengatasinya adalah dengan mendekati kerentanan kemisikinan secara hadap masalah. Dilihat kebutuhan dan karakteristik masyarakat, yang pastinya berbeda di masing-masing wilayah. 

“Bukan lagi kebijakan sapu jagat yang sama semuanya. Namun harus lebih solutif pada problem, baik di tengah pandemi maupun pasca pandemi. Harus lebih spesifik dan dipilah berdasar kadar kerentanan dan nestapa ekonomi masyarakat berdasar lokus yang jelas,” hemat Dr Yulia.

Kemudian, bila kebijakan publik telah dirumuskan, yang sangat menentukan keberhasilan implementasinya di tingkat daerah adalah peran pemerintah daerah. Harus proaktif dan mendata strategi penghidupan lokal yang ada, termasuk menciptakan kerangka kerja kelembagaan yang mendukung kesejahteraan swadaya yang berkelanjutan. Jadi, kesemuanya itu akan memberi rasa aman di masyarakat dan optimis dalam meraih masa depan yang lebih baik. Siapkah? (*)

 

TANGGAPAN ANDA MENGENAI BERITA INI

Senang

0

Tidak Peduli

0

Marah

0

Sedih

0

Takjub

0

Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting

KOMENTAR TERBARU

X
X