
hariansuara.com, Jakarta - Kondisi Sungai Citarum kini patut dibanggakan setelah limbah sampah sudah terangkut. Dengan kondisi itu membuat sungai terpanjang di Jawa Barat tersebut membuat kualitas air membaik.
Kabar positif itu membuat debit Citarum bisa membantu peningkatan kualitas air waduk Jati Luhur. Waduk ini yang akan jadi penyuplai utama air baku bagi Ibu Kota, DKI Jakarta.
Selain itu, dengan kualitas air Citarum yang bebas dari sampah membuat warga sekitar setidaknya bangga. Jumlah ikan asli di sungai tersebut terus bertambah.
"Ini Alhamdulillah, beda banget dulu dan sekarang. Saya senang sebagai warga. Ini banyak Ikan Lalawak," ujar Fickar, salah seorang warga Jatiluhur seperti disampaikan dalam keterangan resmi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Selasa, 3 November 2020.
Dia menyebut keberadaan ikan Lalawak mirip seperti nostalgia. Sebab, sudah lama ikan mirip tawes berujung ekor merah itu tidak terjaring warga.
Menurut dia, selama ini, yang sering tersangkut jajaring seperti mas dan patin. Bagi dia. Lalawak ini punya keunikan selain dari rasa yang berbeda.
”Meski ukurannya kecil, lalawak ini lebih gurih, enak disantap," ujarnya.
Sementara, Ketua Kelompok Peneliti Balai Riset Pemulihan Sumber Daya Ikan (BRPSDI), Profesor Krismono menyampaikan berbagai ikan lokal kini bisa ditemui, setidaknya di delapan titik pemantauan sekitar waduk Jatiluhur. Delapan titik tersebut antara lain pertemuan antara Cibadak dan Cihuni, Ciririp, Cihonje, Tanggul 5, Istora, Cikanyayan, Pasir Canar, serta Cilalawi.
”Beberapa tahun lalu hanya terlihat di beberapa titik. Bahkan sering kali tidak ditemukan sama sekali," jelasnya.

Menurut dia, kembali ikan lokal tersebut karena perbaikan kualitas lingkungan. Hal ini tak imbas program Citarum Harum, yang efektif merehabilitasi dan mencegah degradasi Citarum.
Pun, data dari peneliti Pusat Riset Perikanan Tangkap, Endi Setiadi Kartamihardja dalam Jurnal Iktiologi Indonesia Volume 8 Tahun 2008 melaporkan pada kurun 1968-1977 terdapat 31 jenis ikan hidup di kawasan Jatiluhur. Sebanyak 23 jenis di antaranya adalah ikan asli dan delapan jenis sisanya adalah ikan tebaran.
Namun, pada penelitian 1998-2007, dari 23 jenis ikan asli, tinggal ditemukan sembilan jenis, yakni hampal, lalawak, beunteur, tagih, kebogerang, lais, lele, lempuk, dan gabus.
Ketua Paguyuban Pembudidaya Ikan di Waduk Jatiluhur, Yana Setiawan tak menampik keberhasilan program Citarum Harum. Dengan program itu, jumlah Kolam Jaring Apung (KJA) di Waduk Jatiluhur sekitar 48.000 petak. Saat ini, jumlahnya berkurang jadi 25.000 petak. (*) roh/lia FOTO: IST
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU