
Bekasi - Komisi A Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Bekasi, Jawa Barat, mempertanyakan lambatnya proses evakuasi pada korban tewas kecelakaan kerja Apartemen Grand Kamala Lagoon, Pajar Iskandar (21).
"Proses evakuasi korban berjalan sekitar 30 jam lebih. Ini sangat lambat sekali. Bahkan sempat dihentikan beberapa kali," kata Ketua Komisi A DPRD Kota Bekasi Ariyanto Hendrata di Bekasi, Jumat.
Menurutnya, sejumlah saksi mata kejadian sempat memastikan korban Pajar masih dalam keadaan hidup pada rentang waktu pukul 01.20 WIB hingga pukul 05.30 WIB, Rabu.
"Saksi mendengar respons suara korban meminta tolong dari balik rongga puing tangga darurat yang mengubur jasad Pajar setinggi 12 meter selang lima jam sejak kejadian. Artinya pada rentang waktu tersebut korban masih dalam keadaan hidup," katanya.
Sementara, proses evakuasi oleh tim gabungan dari Pemadam Kebakaran Kota Bekasi dan Jakarta Timur baru berlangsung pukul 07.00 WIB atau tujuh jam pascakejadian runtuhnya tangga darurat setinggi 32 lantai di Tower Emerald North.
Hal itu dipertanyakan Ariyanto kepada Kepala Kantor Damkar Kota Bekasi Teny Hafni dalam agenda audiensi. Berkaitan dengan kecelakaan kerja Apartemen Grand Kamala Lagoon Kota Bekasi di ruang Aspirasi DPRD Kota Bekasi, Jalan Chairil Anwar, Bekasi Selatan, Jumat sore.
Dalam kegiatan itu, juga terungkap sejumlah kendala teknis kegiatan penyelamatan korban yang menurut Ariyanto tidak penting untuk dilakukan.
Kendala teknis yang dimaksud adalah keharusan pihak Damkar Kota Bekasi dalam meminta izin kepada kontraktor pembangunan apartemen yakni PT PP untuk memperoleh bantuan dari Damkar Jakarta Timur akibat keterbatasan alat evakuasi.
"Damkar Kota Bekasi sebenarnya sudah menerima laporan tersebut sejak pukul 03.00 WIB. Namun mereka belum bisa langsung bekerja karena keterbatasan alat. Dakmkar Kota Bekasi belum mau meminta bantuan Damkar DKI sebelum ada izin dari kontraktor," katanya.
Baru pada pukul 05.00 WIB pihak kontraktor mengizinkan Damkar Kota Bekasi untuk meminta bantuan Damkar Jakarta Timur dan proses evakuasi berjalan pukul 07.00 WIb pascapenyamaan persepsi.
Politisi Partai Keadilan Sejahtera itu juga mempertanyakan alasan tim evakuasi gabungan mengulur waktu penyelamatan korban dengan menyetop sementara kegiatan itu pada Rabu (4/1) malam. Dan kembali berlanjut pada Kamis (5/1) pukul 08.00 WIB. "Alasannya untuk istirahat petugas," katanya.
Menurut Ariyanto, pihak yang paling berperan dalam evakuasi itu yakni Badan SAR Nasional (Basarnas) juga datang terlambat. Ini akibat tidak ada pihak manapun yang melaporkan kejadian itu.
Kepala Kantor Damkar Kota Bekasi Tedy Hafni mengakui proses evakuasi pihaknya berjalan lambat.
"Kita sampai sekarang belum punya alat pendeteksi suhu tubuh, alat pemecah beton khusus dan lighting mobile yang dimiliki Damkar DKI. Sehingga butuh bantuan untuk pengadaan alat tersebut," katanya.
Menurutnya, tempat kejadian perkara (TKP) saat dievakuasi memiliki medan yang berat dengan luas ruangan hanya 6x2 meter per segi dan tumpukan puing boton dan baja setinggi 12 meter.
"Dengan penggunaan alat saja, kita menghabiskan waktu 30 jam. Situasinya memang sulit untuk menyelamatkan korban dalam kondisi hidup," ungkapnya.(*)
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU