
Jakarta - Skema pendidikan yang diterapkan sejak sekolah dasar hingga menengah atas memengaruhi minimnya minat siswa pada bidang pertanian.
Demikian pendapat peneliti kependudukan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Gutomo Bayu Aji.
Hal itu dikemukakannya dalam diskusi berlabel `Krisis Ekologi Pulau Jawa`, di kantor LIPI Jakarta, Selasa.
Rancangan sistem pendidikan sejak SD, SMP, SMA dan SMK diarahkan untuk pembangunan industri.
"Pendidikan juga menjadi problem besar dalam pertanian sekarang ini. Karena desain pendidikan dalam pembangunan itu diarahkan untuk dunia industri," ungkap Bayu.
Sistem pendidikan dasar hingga menengah tidak diarahkan untuk pembangunan industrialisasi pertanian.
"Meskipun ada SMK pertanian, tapi itu angkanya kecil sekali," ungkapnya.
Menurut Bayu pendidikan di sekolah-sekolah terutama pedesaan justru mengasingkan anak-anak keturunan petani dari dunia pertanian yang mana merupakan lingkungannya sendiri.
Bayu melakukan survei di tiga desa di Provinsi Jawa Tengah. Pada rumah tangga dengan hasil 71 persen pekerjaan kepala keluarganya sebagai petani.
Dari survei tersebut menunjukkan hampir tidak ada anak-anak yang berkeinginan untuk meneruskan pekerjaan di bidang pertanian.
"Hanya 4 persen dari anak yang tinggal serumah dan 2 persen anak yang tidak tinggal serumah dengan orang tuanya mau meneruskan pekerjaan orang tuanya sebagai petani," ucapnya.
Sementara sebanyak 70 persen anak-anak menjawab akan meninggalkan desa untuk pergi mencari pekerjaan lain.
Bayu menyebut hasil survei itu memaparkan bahwa hubungan orang tua dan anak dalam hal pekerjaan dan keterampilan pekerjaannya tidak terwariskan.(*)
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU