Login

Username / Email :
Password :
Forgot Password Sign Up
Belum memiliki akun? Daftar Sekarang!
Close [x]
Nasional

7 Pasar Perbatasan RI-TL Belum Optimal Buka

Cakrawala Daerah
01 Feb 2017
7 Pasar Perbatasan RI-TL Belum Optimal Buka

 

Kupang - Kepala Dinas Perdagangan Nusa Tenggara Timur Simon Tokan mengatakan Kementerian Perdagangan Indonesia telah membangun tujuh pasar tradisional di perbatasan Indonesia-Timor Leste.

 

"Ketujuh pasar tradisional itu masing-masing Pasar Metamasin, Pasar Batugede / Motaain dan Pasar Metamauk serta Pasar Turiskain di Kabupaten Belu," ungkapnya di Kupang, Rabu.

 

Sementara Pasar Wini, Pasar Napan serta Pasar Oelbinose di Kabupaten Timor Tengah Utara. Ini berbatasan langsung dengan Ambeno Distric Oecusse, Timor Leste.

 

Diakui pasar-pasar tersebut belum dioptimalkan warga yang tinggal di sekitar perbatasan dua negara itu karena berbagai alasan.

 

"Pasar tradisional di Batugede / Motaain di Timor Leste telah diresmikan 4 Februari 2012, hingga kini belum ada pedagang Timor Leste yang berdagang," ujarnya.

 

Padahal masyarakat yang tinggal di sekitar wilayah perbatasan kedua negara tetangga itu sangat membutuhkan barang konsumsi terutama yang berasal dari Indonesia ke Timor Leste.

 

Tak beda dengan empat pasar tradisional yang dibangun di perbatasan yang menjadi pintu utama lalu lintas kedua negara.

 

"Selama ini perdagangan kebutuhan sembilan bahan pokok dan alat-alat rumah tangga tersedia di kawasan perdagangan. Atau di Atambua, ibukota kabupaten Belu dan Kefamenanu, ibu Kota Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur," tuturnya.

 

Kemendag sebelumnya menyelenggarakan Konsultasi Publik Perkembangan Kerja Sama Bilateral Perdagangan dan Investasi antara Indonesia dengan negara mitra dagang (Timor Leste dan Australia) di Kupang.

 

"Dalam konsultasi publik itu, pihak Kemendag ingin mendapatkan input langsung dari para pedagang, akademisi dan pengamat serta LSM yang ada di perbatasan wilayah ini.

 

Sehingga dikaji untuk selanjutnya diterbitkan dalam bentuk kebijakan lembaga untuk mengoptimalkan pasar-pasar tersebut," katanya.

 

Data sementara yang diperoleh disebabkan oleh letak pasar-pasar itu jauh dari pemukiman. Sehingga sulit untuk dijangkau, baik produsen barang maupun konsumen.

 

"Akses pembeli ke pasar tidak mudah. Akibatnya pembeli jarang datang. Pasar tradisonal di Wini buka seminggu sekali, karena pemerintah Timor Leste belum menerbitkan kartu pas lintas batas (PLB) sehingga berdampak pada pasar lainnya pun tidak aktif," katanya.

 

Upaya yang dilakukan sementara pemerintah Jakarta dan Timor Leste adalah menerbitkan PLB untuk keperluan tradisional dan transaksi perdagangan dibawah 50 dolar AS/hari/PLB dan bebaskan pajak untuk produk-produk konsumsi.(*)

TANGGAPAN ANDA MENGENAI BERITA INI

Senang

0

Tidak Peduli

0

Marah

0

Sedih

0

Takjub

0

Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting

KOMENTAR TERBARU

X