
Mataram- Produksi padi petani Kota Mataram, tertinggi jika dibandingkan beberapa kabupaten/kota di wilayah Nusa Tenggara Barat, dengan produksi rata-rata 6,5 ton per hektare.
"Sementara produksi di kabupaten/kota lainnya, sekitar 5,8 hingga 5,9 ton per hektare," kata Kepala Dinas Pertanian Kota Mataram H Mutawalli seusai penyerahan kartu tani subsidi langsung pupuk (SLP) di Mataram, Rabu.
Menurutnya, tingginya produksi padi pada tingkat petani itu karena petani di Kota Mataram menggunakan teknologi jajar legowo sejak beberapa tahun terakhir ini.
Selain itu, intensifikasi pemilihan benih unggul dan pemupukan yang berimbang.
"Beberapa kabupaten/kota juga ada yang menggunakan pola tanam jajar legowo, tetapi tidak merata dan kurang intensif," katanya.
Kalau petani kota, mulai dari taman hingga panen selalu dikawal oleh penyuluh, sehingga hasilnya bisa maksimal.
"Pengawalan ketat terhadap petani ini didukung juga karena jarak lahan pertanian di Kota Mataram tidak terlalu jauh, sehingga mudah untuk dikontrol," katanya.
Sementara dalam hal pemupukan, petani kota menggunakan sistem pemupukan berimbang. Berbeda dengan petani luar yang cenderung menggunakan pupuk berlebih.
"Pupuk berlebih memang membuat padi tumbuh subur dan hijau, tapi tidak baik untuk pertumbuhan buahnya," kata Mutawalli.
Dengan peningkatan produksi padi di Kota Mataram itu, target produksi padi tahun ini meningkat dari 30 ribu ton tahun 2016 menjadi 32 ribu ton tahun 2017.
"Tapi sampai saat ini belum ada realisasi, karena masih dalam musim tanam, awal April kita bisa menghitung realisasi karena mulai masuk musim tanam," katanya.(*)
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU