
hariansuara.com, Surabaya - Ribuan orang berkumpul di Jalan Pahlawan, Surabaya, menggelar aksi 1.000 Lilin untuk NKRI.
Aksi ini sebagai bentuk keprihatinan atas matinya keadilan dan lemahnya negara menghadapi kelompok-kelompok yang ingin memecah belah bangsa Indonesia.
Tak hanya di Surabaya, aksi ini juga digelar di Medan dan Palembang.
Di depan Kantor Gubernur Jawa Timur dan halaman monumen Tugu Pahlawan di Surabaya, Jumat (12/5) malam, ribuan orang berpakaian merah dan putih menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dengan semangat. Sambil membawa lilin yang menyala di tangan.
Menurut Romo Agustinus Tri Budi Utomo, dari Keuskupan Surabaya, penyalaan lilin ini merupakan lambang masih menyalanya nurani masyarakat Indonesia yang harus tetap dijaga dari ancaman manapun.
“Menurut saya lilin-lilin ini lambang dari nurani yang mestinya dijaga dan menyala. Nah pada saat seperti ini, mereka semua adalah pasti orang-orang yang tidak mau tidak ambil bagian, karena ingin menyuarakan ini, dan ini sebenarnya merepresentasikan nurani masyarakat,” ucapnya.
Aksi radikalisme yang banyak terjadi di ruang public, membuat masyarakat yang selama ini diam merasa jenuh.
“Masih banyak orang yang selama ini diam, itu sebetulnya hatinya menginginkan Indonesia itu menjadi rumah bersama yang damai, yang nyaman. Tapi selama ini ruang publik itu selalu didominasi oleh kelompok-kelompok radikal yang penuh kebencian, dan mereka dalam beberapa hal berhasil menekan negara. Maka, ini adalah gelombang masyarakat yang sekalipun diorganisir, tapi karena kita memiliki perasaan yang sama, ya jadi. Masyarakat kita itu sudah jenuh,” ungkap pakar radikalisme Universitas Islam Negeri (UIN) Surabaya Ahmad Zainul Hamdi.
Aksi ini juga merupakan bentuk solidaritas terhadap Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, yang telah menjadi korban diskriminasi dari kelompok-kelompok yang intoleran dan radikal, yang selama ini banyak dibiarkan oleh negara.
“Saya kira Ahok itu kan hanya simbol, simbol dari bagaimana orang yang selama ini bekerja dengan sangat baik, berasal dari etnis yang selama ini dalam sejarahnya itu menjadi korban diskriminasi, dan ketika kemudian kita menginginkan Indonesia baru, Indonesia yang lebih adil, lebih terbuka, yang tidak diskriminatif, tapi ternyata kemudian Ahok ini menjadi sosok, yang menjadi korban dari apa yang kita sebut sebagai bangkitnya kelompok Islam radikal yang diskriminatif itu, dan lemahnya negara,” tegasnya. (sumber VOA)
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU