Login

Username / Email :
Password :
Forgot Password Sign Up
Belum memiliki akun? Daftar Sekarang!
Close [x]
Internasional

Cara Vanny Tembus Jantung Fashion Amerika Serikat

Diaspora
15 Aug 2016
Cara Vanny Tembus Jantung Fashion Amerika Serikat

hariansuara.com, Jakarta – Amerika bagai magnet tersendiri bagi para desainer dunia, tak terkecuali Indonesia. Berbondong-bondong para desainer asal Indonesia mempertunjukkan koleksi terbaiknya dalam berbagai acara peragaan busana. Ada yang sekadar ingin eksis sesaat, namun ada juga yang terus berupaya bertahan.

Salah satu desainer yang mencoba terus konsisten adalah Vanny Tousignant. Melalui Vanny Fashion-nya, wanita aktif ini gigih menembus jantung fashion negeri Paman Sam melalui koleksi busananya yang kental dengan unsur budaya Indonesia. Koleksi busananya telah berkibar di banyak peragaan busana di sana. Bagaimana kiprahnya? Berikut petikan wawancara hariansuara.com dengan Vanny beberapa waktu lalu.

Bisa diceritakan awalnya berkecimpung dalam bidang fashion? Sudah berapa lama di Amerika Serikat?

Berkecimpung di dunia fashion ini masih terbilang baru, karena saya mulai sekitar 2,5 tahun yang lalu. Latar belakangnya, hanya sebagai hobi saja dari kecil. Di Amerika Serikat awalnya saya hijrah bersama seluruh keluarga, dan sekarang kami semua sudah menjadi warga negara Amerika. Jadi, hampir dibilang sudah hampir 30 tahun tinggal di New York City.

Untuk segmen pasar fashion-nya sendiri menyasar ke semua umur, sifatnya ready to wear dan apakah mengaplikasikan unsur Indonesia di dalamnya?

Fashion dan desain saya untuk anak-anak, remaja, dan orang tua. Ada busana ready to wear dan ada juga custom made. Saya desain sendiri dan memberikan gambaran atau sketsa kepada tiga penjahit saya di Indonesia dan satu penjahit lokal Amerika. Untuk show-nya saya selalu dibantu Jenny Winters, salah satu model Indonesia yang berdomisili juga di New York sebagai public relations. Untuk pasar produksi dan desainku cukup bagus di Amerika khusus untuk ready to wear-nya. Dan motifnya semua unsur Indonesia, dari batik, tenun dan songket.

Di Amerika sudah ikut fashion show di mana saja?

Pertama kali ikut fashion show di New York City pada acara Indonesia Expo, dilanjutkan seminggu kemudian ke New York Couture Fashion Week. Saya terpilih menjadi desainer untuk acara tahunan dari salah satu Perguruan Tinggi di New York City, John Jay College.

Sampai saat ini saya sudah delapan kali mengikuti Fashion Show di New York City dan satu kali fashion show di Chicago. Masih ada tiga lagi rencananya untuk fashion show saya pada September di sini. Tiga dari desain saya juga sudah diterbitkan oleh majalah I Fashion Magazine, majalah fashion untuk wilayah Amerika.

Saya juga terpilih bulan ini dalam kompetisi desainer terbaik untuk New York Fashion Week 2016, dan memasuki semi final dengan dua desainer lainnya kategori Couture Designs. Pengumuman siapa yang akan menduduki tempat pertama akan diumumkan pada  12 September nantii. Doakan saja ya biar saya bisa membawa trofi untuk nama Indonesia.

Dalam mengembangkan bisnis fashion tentu ada kendala. Bagaimana Anda mengatasinya?

Kesulitan sih kurang, karena saya selalu belajar tentang pasar fashion dan mengenal keinginan customer.

Untuk harapan ke depannya, seperti apa bisnis fashion yang Anda jalankan di New York?

Harapan saya untuk bisa lebih maju dan dikenal di Amerika sebagai salah satu desainer Amerika kelahiran Indonesia. Selain itu, pada September ini kami rencananya akan membuka butik di New York City dengan nama Indonesia Fashion Gallery, bersama dua partner saya dari Indonesia, Teti Nurhayati dan Dina Fatimah. Jabatan saya adalah Direktur Operasi Nyc.

Banyak desainer asal Indonesia sering kali tampil di acara-acara fashion di Amerika Serikat. Bagaimana pendapat Anda?

Ada beberapa, tetapi mereka kurang di dalam networking. Jadi, kurang dikenal sama masyarakat Amerika di sini. Masyarakat Amerika lebih mengenal desainer Indonesia, contohnya Anniesa Hasibuan. Karyanya pernah mendapatkan penghargaan di Couture Fashion Week New York City.

Selain itu, banyak yang ke sini setelah selesai fashion show mereka kembali ke Tanah Air tanpa ada waktu untuk press conference di Amerika. Kalaupun ada press conference itu hanya sebatas Konsulat Indonesia maupun masyarakat Indonesia di sini. Mereka harus lebih giat dan berbaur dengan pers Amerika sendiri.

Jadi, bisa dikatakan networking dan lamanya tinggal di suatu negara sangat penting untuk mengembangkan bisnis fashion?

Ya, di Amerika Serikat ini networking itu sangat penting. Betul, makanya saya selalu mengikuti perkembangan di dunia fashion di sini. Keuntungan saya mungkin karena saya memang tinggal sini dan lebih aktif mengikuti fashion show. (*)

 

TANGGAPAN ANDA MENGENAI BERITA INI

Senang

0

Tidak Peduli

0

Marah

0

Sedih

0

Takjub

0

Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting

KOMENTAR TERBARU

X