Login

Username / Email :
Password :
Forgot Password Sign Up
Belum memiliki akun? Daftar Sekarang!
Close [x]
Internasional

Pheren Antara Desainer, Fotografi, dan Rockstar

Diaspora
15 Mar 2018
Pheren Antara Desainer, Fotografi, dan Rockstar

hariansuara.com, Jakarta -  Tahun lalu di Juni  2017, Pheren Soepadhi menyabet tiga hadiah dalam 10th Annual IDA Awards di Architecture & Design Museum, Los Angeles. Dia berhasil duduk di  juara kedua dan ketiga di kompetisi Wedding Apparel serta juara ketiga untuk Haute Couture.

Sebelumnya beberapa tahun yang lalu, wanita asal Jakarta ini juga sempat sempat di daulat sebagai Photographer Of The Year Hollywood 2013 oleh G.O.D Awards di Academy of Television Arts & Science. RAWards adalah sebuah event showcase tahunan dari indie artist oleh indie artist dan untuk indie artist yang diadakan di Amerika. 

Menyimak linimasanya Pheren Soepadhi sepertinya akrab dengan dunia fotografi. Tak hanya itu dia juga merupakan fashion designer. Kiprahnya pun di negeri seberang tidak di Indonesia, tetapi di Amerika Serikat.  Penasaran bagaimana serpak terjangnya di negeri Paman Sam, berikut wawancara santai hariansuara.com dengan dara belia ini beberapa waktu yang lalu. 

Bisa diceritakan awalnya menjadi seorang fotografer? apakah memang sudah hobi dari dulu? apakah ini juga berawal dari sebuah passion ataukah ada hal lain yang mendorong untuk menjadi fotografer?

Dari dulu cita-cita saya jadi fashion designer. Tak pernah kepikiran buat jadi fotografer. Tapi memang ayah saya hobi motret dan dia koleksi kamera jadul lengkap dengan lensa-lensanya. Jadi mungkin skill motret saya menurun dari Ayah. Awal mula saya memoret dari seringnya motret adik saya yang cewek, iseng saja.

Dan waktu belajar fashion design, saya iseng tanya ke teman-teman, ada tidak yang mau difoto, hanya untuk eksperimen sebenarnya. Saya seneng sekali buat long dress dari kain 'chiffon' dan langsung 'hand stitch' di body modelnya. 

Kemudian?

Sejak itu, pelan-pelan mulai dapat klien yang mau difoto. Saya inget pertama kali motret di tahun 2006, jasa servis yang saya minta hanya Rp 150.000 untuk 3 foto dan itu sudah termasuk saya buatkan 'dress' on the spot ( yang hanya dari kain) dan juga make-up/hair untuk klien, siapin dan (kadang bikin) props untuk dekorasi. Semuanya saya kerjakan sendirian. Dan itu saya senang sekali. Dan dulu dikenalnya fotografer gothic, mungkin karena make-up yang saya buat memang lebih dark bukan tipe foto cantik.

Dan dulu kan masih jarang banget. Padahal sebetulnya lumayan banyak cewek/cowok yang suka dandan dan difoto gothic. Karena semakin lama, banyak klien yang sampai jauh-jauh dari luar Jakarta datang hanya untuk foto. Jadi lama-lama seperti di comfort zone menjadi fashion fotografer, karena menurut saya, fashion fotografer lumayan fun. Saya seperti create an art, mulai dari konsep, makeup, dress/costumes, hair, set decor sampai hal yang detail,dan tentunya mengarahkan gaya juga. Jadi bukan sekedar sudah jadi, lalu tinggal motret saja. 

Sudah berapa lama menggeluti fashion fotografi? apakah semenjak berada di AS atau ketika masih di Indonesia?  

Sudah 10 tahun menggeluti motret dan sudah mulai dari Indonesia. Dan waktu masih di Indonesia, saya juga sudah dapat photo projects di Eropa, AS dan Singapura jadi saya lebih banyak travellingnya waktu itu. 

Bisa juga diceritakan mengenai ketertarikan  mengenai fotografer artis, kalau tidak salah selain fotografi fashion juga fotografer musisi, terutama musisi rock? Kenapa musisi rock?

Kalau ditanya kenapa musisi rock, karena saya suka sama musik rock, terutama death metal, progressive metal, groove metal dan symphonic metal. Saya rajin pergi ke konser-konser musik rock karena sepertinya dengan pergi ke konser musik rock, saya bisa serasa 'lepas'.

Masuk dalam lingkungan musisi rock di AS, bagaimanamenempatkan posisi sebagai fotografer? apakah menemui kesulitan-kesulitan tertentu dan bagaimana mengatasinya?

Karena saya berawal dari fotografer fashion, I found it very difficult for the first time. Foto object yang selalu bergerak ( terutama musisi rock, apalagi drummernya) wah dapet satu foto yang bagus saja sudah bersyukur.

Pertama kali motret konser juga cuma gara-gara iseng saja bawa camera buat foto teman-teman musisi. Kalau tidak salah, pertama kalinya saya foto band adalah /RIF. Sejak itu, saya lebih sering bawa kamera ke show kecil ataupun konser untuk practice. Sampai sekarang saya juga masih tetap belajar di setiap konser. Karena beda venue dengan lighting yang biasanya minim dan kita tidak boleh pakai flash dan biasanya saya lihat dulu video di youtube sebelum bandnya pentas, jadi at least saya sudah tahu posisi musisi-musisinya dan gerak di setiap lagu karena most of the time pasti sama.  

Adakah momen spesial selama menjadi fotografer musisi rock? 

Moment special yang tak bisa dilupakan adalah saat diperkenalkan pertama kalinya ke Sepultura oleh Ezra ( Zi-Factor) di tahun 2012, satu hari sebelum mereka konser di Djarum Super Rock Fest. Saya dapat kesempatan dinner bareng satu meja dengan semua member dari Sepultura, manager dan juga promotor. Ngobrol dan tukeran contact, setiap kali mereka datang ke AS untuk konser dan sampai ke studio rekaman album mereka disini.

Another special moment, waktu saya hanya iseng-iseng undang Dave Navarro ke pameran foto saya di Hollywood dan dia bilang kalau dia tidak bisa datang di tanggal itu, lalu beberapa bulan kemudian, waktu saya lagi buat  project video klip dengan Sony Music di Miami, dan kebetulan Jane's Addiction juga lagi ada konser di Miami. Satu hari sebelum konser, kita janjian ketemu, ngobrol-ngobrol dan dikenalin ke managernya juga. Dan akhirnya saya diundang datang ke konsernya. 

Masih banyak momen spesial, terutama karena sampai sekarangpun, saya masih tidak menyangka bisa ketemu dengan musisi  favorit yang dimana dulu cuma bisa melihat mereka di TV atau majalah dan sekarang saya malah sering diundang ke konser mereka. 

Bisa disebutkan juga musisi-musisi yang pernah dibidik oleh kamera Anda di AS dan Indonesia? 

Musisi Indonesia: /RIF, Deadsquad, Gigi, Titi DJ, KOTAK, Tohpati, PAS Band, Aria Baron, Zi Factor, Navicula, Anji, Dewi Sandra, Rossa, Axel Andaviar, Melanie Subono, John Paul Ivan. 

Musisi luar negeri ada Nuno Bettencourt ( Extreme), Orianthi, Sebastian Bach (Skid Row) , Dave Navarro, Dying Fetus, Evanesence, Sepultura, Morbid Angel, Ne Obliviscaris, Mushroomhead, 9Electric, Max Georgiev ( Escape The Fate) , Steve Ferlazzo ( Avril Lavigne) , Diego Ibarra ( Static X, Devil Driver) ,Glen Sobel ( Alice Cooper), Derek Frank ( Shania Twain),  Good Charlotte, Westfield Massacre, Barb Wire Dolls, Nik Kai, Octane Mob, Carach Angren, Fleshgod Apocalypse, Maximum Hedrum, Nylon Pink, Black Crown Inititate, Joey Castillo, Erra , Born of Osiris, Veil of Maya, After The Burial, Cradle of Filth, Turisas, 

Actors/Performers ada Tora Sudiro, Vincent Ryan Rompies, Desta Mahendra, Angelina Jolie, Vin Diesel, Hillary Swank, Leonardo Dicaprio, Bagus ( Netral), Deddy Corbuzier, Romy Rafael, Limbad dan semua magicians dari The Master RCTI season 1-4 , Adi Nugroho, Nico Siahaan, Agnes Monica, VJ Daniel, Regina Idol dan beberapa kontestan Indonesian Idol lainnya. 

Terakhir, bisa juga dishare mengenai kunci sukses jika ingin hidup di tanah rantau, terutama di AS? 

Kunci sukses terutama di negeri orang, yang dimana saya rasa, dimana-mana juga sama sih. Tapi tentunya harus extra kerja keras, karena saya tinggal di pusat entertainment, dan semua pekerja seni disini very talented, jadi kita harus stand out dari mereka, do not copy other's work, terus memperluas koneksi, pelajari cara kerja mereka ( basically, learn about everything), plan properly, selalu on-time. (*)

TANGGAPAN ANDA MENGENAI BERITA INI

Senang

0

Tidak Peduli

0

Marah

0

Sedih

0

Takjub

0

Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting

KOMENTAR TERBARU

X
X