Login

Username / Email :
Password :
Forgot Password Sign Up
Belum memiliki akun? Daftar Sekarang!
Close [x]
Internasional

Mahmudi Asal Tulungagung Jadi Direktur Sukses di Negeri Sakura

Diaspora
18 Feb 2017
Mahmudi Asal Tulungagung Jadi Direktur Sukses di Negeri Sakura

hariansuara.com, Jakarta - Suratan takdir telah digariskan. Manusia tak dapat mengelaknya. Seorang Mahmudi Fukumoto tak pernah mengira kalau ia akan menginjakkan kakinya di Jepang, terlebih lagi menjadi direktur dari  sebuah perusahaan bernama Keihin Co Ltd.

Mencapai posisinya ini tentu bukanlah perkara mudah. Kepada hariansuara.com, ia mengaku harus tertatih-tatih. Krisis Global pada 2008 pernah dirasakannya sangat menghempas. Tetapi syukurlah, berkat keberkahan dari Sang Khalik, kerja kerasnya mampu membuat perusahaannya bertahan sampai sekarang.

Mahmudi pun menjadi salah satu contoh orang Indonesia yang sukses di tanah rantau. Ia berhasil mengentaskan dirinya dari kehidupan masa lalu yang susah. Ia tidak menanggalkan identitasnya sebagai WNI, dan kedatangannya pertama kali di Jepang pada awal 2000-an hingga berbuah manis, dikisahkannya kepada hariansuara.com. Berikut petikan bincang santai hari itu:

Bisa diceritakan tentang Anda? 

Saya berasal dari Desa Tanen, Rejotangan, Tulungagung,  Jawa Timur. Saya berasal dari keluarga yang lumayan tidak punya. Ibu saya meninggal ketika saya umur setahun. Kemudian, saya hidup bersama ayah. Beliau tidak pernah menikah lagi sampai beliau meninggal. Dan saya menyelesaikan S3 saya di Desa Tanen. Ha ha ha.

Maksudnya  S3 di Desa Tanen?

Yang saya maksud S3 itu adalah S1=SD, S2=SMP, S3=SMU (Madrasal Aliyah Negeri/MAN 3 Tanen, Rejotangan, Tulungagung). Di MAN Tanen itu saat saya tidak mampu bayar SPP, saya mengabdi di sekolah sebagai tukang kebun (setiap pagi menyapu halaman sekolah) sampai  tamat. Yang penting, SPP gratis. Pulang sekolah saya nyambi lagi jadi buruh tani, mencangkul di rumah kepala yayasan atau ke tempat orang yang membutuhkan.

Kami miskin sih, tidak tapi lumayan kere. Saya hidup prihatin dari kecil. Jarang ada yang sedekah sama saya. Setelah selesai sekolah saya merantau ke daerah, di antaranya ke Lampung, Malaysia, dan Bali. 

Apa yang Anda kerjakan untuk menyambung hidup dalam perantauan?

Di Lampung saya pernah bekerja di perkayuan, sedangkan di Malaysia pernah jadi pekerja ilegal, lalu ditangkap polisi dan masuk penjara.

Bisa dikatakan sebelum ke Jepang Anda kerja serabutan?

 Waktu di Indonesia benar.

Nah, bagaimana ceritanya Anda bisa sampai bisa ke Jepang?

Singkat cerita saya ke Jepang pada 2001 sampai sekarang. Di Jepang, saya pernah bekerja di hotel sebagai tukang bersih toilet sampai kerja di proyek. Setelah di Jepang ini, saya mulai bekerja serius.

Lantas bagaimana kisah lahirnya perusahaan Anda?

Pada 2007 saya mendirikan perusahaan yang saya beri nama Keihin Co, Ltd.

Bergelut di bidang apakah?

Pekerjaan kami di bidang sub-kontruksi. Saya minta teman Jepang saya yang sudah sangat senior, dan saya sebagai Wakil Dirut. Selang 1,5 tahun teman saya pensiun dan saya manggantikannya sebagai Dirut Keihin Co, Ltd. Saya termasuk orang yang maniak kerja. Waktu itu saya bekerja di bidang ini dan itu. Apa saja yang saya bisa kerjakan.

Selain mengelola perusahaan, kegiatan Anda apa saja?

Mulai 2006 saya belajar golf secara otodidak. Alhamdulillah sekarang saya golf lumayan jago dengan pukulan yang lumayan kencang, meskipun postur tubuh saya kecil. Mungkin juga karena basic saya tukang cangkul kali ya he he he.

Dalam menjalankan perusahaan tentu ada rintangan. Apa sajakah itu?

Pertengahan 2008 terjadi krisis global. Kesulitan itu membuat saya harus bekerja keras untuk mempertahankan perusahaan saya. Waktu itu karyawan saya semua orang Jepang. Ada juga yang dari Korea Selatan dan Sri Lanka. Waktu itu keuletan saya benar-benar diuji, antara mempertahankan perusahaan agar tetap eksis atau gulung tikar. Alhamdulillah akirnya saya bisa bertahan.

Bagaimana Anda mengatasinya?

Ketika itu teman-teman saya banyak yang gulung tikar, begitu juga perusahaan yang memberi saya pekerjaan. Yang kami lakukan, tetap bersemangat, ngemis pekerjaan ke sana kemari. Dan karena kami tidak memakai dana bank untuk perusahaan kami ini, maka kami jadi tidak ada beban yang melilit. Kami tidak memberhentikan pekerja. Kami hanya berusaha memberikan pengertian kepada karyawan bahwasanya kondisi sangat memprihatinkan.

Saya bilang, "Kalau ada tempat lain yang lebih menjanjikan, silakan diambil.” Sambil tentunya setiap malam saya berdoa mohon solusi dari Allah. Mau tidur juga susah, karena kepala mumet.

Kabarnya perusahaan Anda bergerak di banyak bidang.

Ya, pada 2011 saya mulai mengembangkan di bidang lain, yaitu bidang penyediaan jasa transportasi dan event organizer. Bidang ini kami beri nama Keihin Tour. Alhamdulillah sampai saat ini bidang ini berjalan terus dan kami menyediakan transportasi premium. Keihin Tour ada memiliki beberapa unit kendaraan, di antaranya Vellfire, Alphard, El Grande, dan HiAce. 

Berasal dari mana saja peserta Keihin Tour?

Kami memiliki banyak konsumen, baik dari beberapa instansi pemerintah, BUMN, Pemda, maupun swasta. Bahkan sampai saat ini jika RI 2 ke Jepang, Alhamdulillah, mempercayakan kepada jasa transportasi kami. 

Pada 2012 saya juga mendirikan organisasi non-profit bernama KNS (Karya Nusa Solusi). Tujuan dari organisasi itu salah satunya memberikan solusi kepada para pekerja di luar negeri, khususnya Jepang, yang sepulang ke Indonesia ingin jadi pengusaha.

Selanjutnya kegiatan dari organisasi tersebut apa saja?

Kami sering mengadakan seminar business matching antara investor asing yang pasti investasi di Indonesia (TKI Jepang) dengan teman-teman UKM (Usaha Kecil Menengah-Red) kita. Bahami mengadakan business matching sampai ke Korea Selatan. Pada 2013 saya diminta Pak Dino Patti Djalal (waktu itu Dubes AS) atas promosi Pak Edward Wanandi, untuk jadi pembicara di kongres diaspora JCC Jakarta pada Agustus 2013. Setelah itu saya sering diundang untuk mengisi seminar sebagai motivator.

Terkait nama Jepang di belakang nama Anda, bagaimana ihwalnya?

Nama asli saya cuma Mahmudi. Sedangkan di Jepang harus ada family name,  makanya saya tambahkan Fukumoto, nama keluarga istri saya. Setelah memakai nama jepang itu gerak saya dalam memimpin perusahaan menjadi lebih mudah.

Dalam berbisnis dan berorganisasi, apakah Anda bergabung dalam sebuah asosiasi?

Di Jepang saya masuk asosiasi para pengusaha Jepang, namanya Rinri Hojingkai atau RH. Anggotanya di seluruh Jepang ada ribuan perusahaan. Di Tokyo saja ada 40.000 lebih perusahaan. Acara rutin kami setiap selasa pagi melakukan pertemuan belajar dan berdiskusi bersama di setiap chapter.

"Saya masuk di chapter Tokyo Barat. Setelah diskusi dengan beberapa teman pengusaha, kami sepakat membuat asosiasi sempalan dari RH yang khusus menjembatani kerjasama dengan Indonesia, baik dengan pemerintah maupun swasta. Asosiasi ini kami beri nama Indonesia Japan Solusi (IJS). Di sini saya diamanahi sebagai Presiden.

Kegiatannya meliputi apa saja?

IJS banyak melakukan kegiatan di antaranya menangani training dari Dispenda Jatim, menyelenggarakan pertemuan antara Kongres Advokat Indonesia (KAI) dengan anggota RH. Januari kami membawa 6 investor dari Jepang untuk mencari peluang bisnis di Indonesia. Saya sendiri sebagai Presiden IJS diundang ke  beberapa Pemda yang berkeinginan mendatangkan investor dari Jepang.

Sampai sekarang Anda sudah lama di Jepang, apakah masih warga negara Indonesia?

Saya cinta sekali Indonesia, dan saya tetap menjadi WNI. (*)

 

TANGGAPAN ANDA MENGENAI BERITA INI

Senang

1

Tidak Peduli

0

Marah

0

Sedih

0

Takjub

0

Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting

KOMENTAR TERBARU

X