
hariansuara.com, Jakarta – Dunia fotografi seakan-akan sudah mendarah daging baginya. Dunia ini sedari kecil sudah diperkenalkan oleh ayahnya yang juga pecinta fotografi. Hingga sampailah seorang Erwin Darmali singgah di Amerika Serikat. Disana dia bersama temannya Roy Soemarsono mendirikan usaha jasa fotografi bernama Apertura yang fokus pada wedding photography.
Melalui jepretannya, dia berhasil meraih Top Ten Wedding Photographers dari American Photo Magazine pada 2009. Ya! fotografi baginya bukanlah sekadar foto, melainkan nafas dan bicaranya. Gairahnya ada di dunia ini, sampai-sampai ia rela melepaskan pekerjaannya sebagai production manager di Fender Guitars.
Berikut petikan wawancara santai hariansuara.com dengan Erwin Darmali beberapa waktu lalu:
Menjadikan dunia fotografi sebagai bisnis jasa sejak kapan dilakukan? Siapa saja pendirinya?
Bisnis jasa fotografi ini didirikan pada 2005 antara saya sendiri dengan teman baik saya semasa sekolah, Ray Soemarsono. Sejak Oktober 2016, Ray memilih untuk bekerja di bidang lain, jadi praktis dari waktu itu Apertura dijalankan oleh saya sendiri.
Bagaimana kisah awal terjun di fotografi, apakah dari hobi? Kenapa di Amerika Serikat? Sebelum menggeluti dunia fotografi, Anda bekerja di bidang apa?
Saya sering bercanda bahwa bisnis ini dimulai dari kebosanan dalam dunia kerja saya dulu. Saya waktu itu menekuni bidang teknik industri. Pekerjaan saya monoton sekali, jadi saya mulai mencari hobi yang saya suka. Ayah saya dulu memang suka sekali dengan fotografi. Berulang kali beliau berupaya agar saya bisa mempelajari bidang itu juga. Saya pindah ke Amerika Serikat untuk studi bagian teknik. Sebenarnya saya suka sekali arsitektur dan desain, tapi tidak kesampaian.
Mulailah saya belajar fotografi dan kemudian menjadi bagian dari hidup saya sehari-hari. Setiap waktu kosong saya pakai untuk bepergian dan memotret hal-hal yang saya suka. Dari situlah lama-lama saya membangun brand Apertura ini setelah coba memotret pernikahan. Awalnya sih cari penghasilan untuk beli alat-alat baru. Tapi akhirnya benar-benar suka bekerja di bidang fotografi. Sekitar 2011 saya keluar dari pekerjaan saya sebagai production manager di Fender Guitars untuk 100% bekerja di bidang fotografi ini.
Untuk fotografi, sejauh ini bagaimana respons masyarakat?
Apertura di Amerika diterima dengan tangan terbuka. Tahun pertama tanpa advertensi memotret 12 wedding, jumlah wedding yang kita foto juga makin banyak setiap tahun, sampai kami harus melakukan seleksi clientelle. Kami selektif, karena kami tahu kami tidak bisa memotret terlalu banyak wedding. Kami mau brand ini selalu fresh, dan mempunyai feel yang berbeda dari yang lainnya.
Untuk jenis fotografi Apertura sendiri bagaimana?
Jenis fotografi Apertura adalah benar-benar foto jurnalisme dengan fokus untuk mendapati momen yang asli dan tidak dibuat-buat. Kami adalah story teller dan caranya adalah dengan mengantisipasi semua momen yang akan terjadi. Ya memang lebih gampang kalau semua itu di-stage atau dibuat. Tapi menurut kami, itu tidak ada personal feel atau apresiasi dari klien kami. Mereka mau sesuatu yang mereka bisa ingat dengan senang, relieving their happiest day at their wedding. Cerita yang nyata itu 'kan juga lebih menarik, sebab ada koneksi dengan perasaan klien kami.
Orang Indonesia di AS, apakah cukup banyak yang terjun ke bisnis jasa fotografi?
Ada beberapa orang Indonesia setahu saya yang menggeluti bidang ini di Amerika. Saya rasa banyak yang sukses juga, tetapi tidak kelihatan saja. Saya yakin sungguh-sungguh, bahwa lokasi pekerjaan dan latar belakang dari mana bukanlah sesuatu yang jadi problem dari kesuksesan. Kunci kesuksesan kami adalah dua hal, filosofi yang kuat dan semangat kerja yang tidak main-main.
Dalam menjalankan bisnis usaha ini pasti menemui kesulitan? Bagaimana Anda mengatasinya?
Semua bisnis pasti ada kesulitan. Dan setiap kesulitan itu harus di-manage, atau cari solusinya. Saya rasa yang paling berat di zaman ini bukan hanya kompetisi, tapi juga mencari orang-orang yang benar untuk bekerja. Kebanyakan orang muda saat ini mempunyai perasaan self-entitlement. Mereka merasa terlalu pintar, terlalu baik untuk pekerjaan tertentu, dan kebanyakan fokusnya mencari uang yang banyak, tanpa melakukan hal-hal yang sifatnya self-development atau membuat mereka jadi lebih pintar. Menurut saya motifasinya yang salah ya. Seharusnya, bekerjalah yang benar dan lebih baik dari rata-rata, maka penghasilan akan naik dengan sendirinya. Bukan sebaliknya.
Kabarnya Apertura memenangkan banyak kompetisi internasional. Puncak penghargaannya mendapatkan Top Ten Wedding Photographers dari American Photo Magazine?
Ya! Pada 2009 kami dapat penghargaan Top Ten Wedding Photographers dari American Photo Magazine, yang di-poll dari orang-orang di industri dan melewati proses vetting yang cukup ketat. Selain itu banyak pula artikel-artikel yang ditulis tentang kami.
Bagaimana rencana Anda dalam bisnis fotografi ini ke depan?
Perlu saya tambahkan, bahwa sekarang saya juga berdomisili di Jakarta, selain di Los Angeles, dan menerima pekerjaan wedding di Asia juga. Selain weddings, saya belakangan ini memfokuskan diri membuat dokumenter tentang orang orang yang bisa dijadikan inspirasi dalam hidup. Ini bisa dilihat di erwindarmali.com. (*)
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU