
hariansuara.com, Jakarta – Ketika berada di benua berbeda, tetapi masih peduli pada nasib anak-anak bangsa di Tanah Air, itu luar biasa. Dengan penuh semangat melakukan pengumpulan dana untuk kelangsungan sekolah anak-anak di Indonesia.
Mengusung program Coin for Indonesia (C4I), Mochamad Agus Junaidi yang bermukim di Birmingham, Inggris itu mencanangkan cara yang unik dan dirasa tak memberatkan. Ia melakukan pengumpulan koin melalui acara-acara sosial, lalu mengirimkannya ke Indonesia untuk membantu kelangsungan pendidikan anak-anak di Tanah Air.
Dibantu sang istri, Sri Suhartini yang akrab disapa Neneng itu, program Coin for Indonesia berjalan mulai 1 Januari 2015. Kepada hariansuara.com, mereka berbagi pengalaman yang istimewa.
Celengan Koin
Kisah lahirnya gagasan C4I bermula dari pengalaman keseharian. Setiap berbelanja, mereka mendapatkan kembalian berupa koin atau recehan, senilai 1 penc, 2 penc, 5 penc, 10 penc, 20 penc, 50 penc, £1, dan £2. Biasanya pecahan kecil acap tak dipedulikan, seperti tak berharga. Pasalnya, tak cukup untuk jajan, tapi kalau dibuang juga sayang.
Agus pun memasukkan koin kembalian ke dalam sebuah kaleng. Iseng saja. Namun, suatu saat, kaleng itu penuh dengan koin kembalian. Iseng ia menghitung jumlahnya. Ia terkesima, karena jumlahnya sebulan mencapai £3 atau setara Rp50.000.
“Dari situ muncullah ide membuat program Coin for Indonesia, C4I. Koin kembalian ini kami donasikan untuk beasiswa anak-anak di Indonesia. Dengan asumsi, Rp50.000 per bulan untuk satu anak didik SD/SMP/SMA.
Agus yakin, idenya yang sederhana itu bisa menjadi sesuatu yang bermakna bagi sesama di Tanah Air. Dengan slogan 'Dibuang Sayang, Buat Jajan Kurang` ini akan memberikan membiayai pendidikan bagi para siswa-siswi di desa-desa terpencil. Tepatnya, di daerah yang sulit dijangkau meliputi Sabang hingga Papua.
“Saat ini jumlah warga Indonesia di Birmingham sangat banyak. Jadi, hasil pengumpulan dana dari koin kembalian itu lumayan juga, “ jelasnya.
Siapa Saja Bisa Mengajukan Bantuan
Menurut Agus, siapa saja pada dasarnya memiliki kesempatan untuk mengajukan bantuan donasi bagi pendidikan. Untuk pemerataan dan agar dana tepat sasaran, terdapat persyaratan tertentu, di antaranya anak-anak penerima donasi berasal dari keluarga kurang mampu, tetapi mereka memiliki semangat belajar yang tinggi, rajin shalat dan mengaji.
“Dan siapapun bisa memberi informasi maupun rekomendasi, siapa yang membutuhkan beasiswa pendidikan tingkat SD/SMP/SMA,” tambahnya lagi.
Memang bukan hal mudah untuk menyebarkan bantuan ini. Namun demi keberlangsungan program, C4I memiliki satu orang voluntir sebagai penanggung jawab di masing-masing kota.
Ketika donatur semakin banyak, Agus dibantu oleh relawan-relawan lainnya dalam mengumpulkan koin. “Setiap satu bulan sekali, saya dan para voluntir mendatangi siapa saja yang akan memberikan koin atau donasinya. Terkadang juga sumbangan dikumpulkan saat pengajian Birmingham yang berlangsung tiap dua minggu sekali.”
Agus berharap program C4I akan terus berjalan dan mampu membantu lebih banyak anak di Indonesia dalam menggapai cita-citanya, dimulai dari bersekolah.
C4I berkolaborasi dengan organisasi masyarakat muslim Indonesia se-UK, KIBAR UK (Keluarga Islam Indonesia di Britania Raya) dalam pengumpulan dana ini.
“Meskipun C4I ini masih berskala kecil, program ini merupakan kontribusi nyata warga Indonesia yang ada di Inggris untuk negara Indonesia. Semoga C4I dapat membantu dan memberikan semangat kepada anak-anak Indonesia dari keluarga kurang mampu terus berjuang menggapai masa depan yang cerah,” ungkap Agus. (Khumaira)
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU