
hariansuara.com, Jakarta – Beragam cara bisa dilakukan demi mempromosikan Indonesia di Amerika Serikat. Salah satunya melalui seni dan budaya seperti yang dilakukan para diaspora Indonesia di Boston. Mereka membentuk semacam paguyuban seni yang dinamakan Singo Lodoyo USA. Selama ini mereka sudah cukup kerap pentaskan Reog Ponorogo, seni khas Jawa Timur.
Eksis kurang lebih delapan tahun, dapat dikatakan paguyuban seni ini cukup lama bertahan di Negeri Paman Sam. Bagaimana kiprah Singo Ladoyo di Amerika Serikat, terutama di Boston dan sekitarnya? Berikut petikan tanya jawab hariansuara.com dengan Bandi Wiyono, Ketua Singo Lodoyo USA beberapa waktu lalu.
Bisa berbagi tentang kesibukan Singo Lodoyo USA akhir-akhir ini? Apakah ada agenda pentas dalam waktu dekat?
Rencananya Singo Lodoyo akan tampil di Boston, namun masih dalam proses
Sekarang berapa anggota Singo Lodoyo? Bisa diceritakan sedikit latar belakang dan profesi mereka?
Masih ada 40 orang yang aktif, tetapi personilnya lebih dari itu. Iya, justru perbedaan profesi ini yang membuat jadi seni.
Bisa diceritakan kapan Singo Lodoyo USA ini terbentuk dan makna namanya.
Singa Lodoyo USA ini terbentuk delapan tahun yang lalu, tepatnya pada Mei. Ketika itu banyak teman dari Ponorogo, Jawa Timur, lelaki dan perempuan. Kami kumpul-kumpul dan mereka bercerita semasa di Indonesia.
Di sela perbincangan itu kebetulan temen-teman ada yang bisa ngendang (bermain gendang-Red), main reog dan lainnya. Kalau begitu kita patungan saja dan terkumpul puluhan ribu dollar. Uang itu kami belikan seperangkat alat Reog langsung dari Ponorogo, mulai dari gendang, gamelan, dadak merak, dan yang lainnya.
Adapun nama Singo Lodoyo sendiri diambil dari sejarah Reog Ponorogo. Singo-nya berasal dari Ponorogo, sedangkan Lodoyo-nya itu berasal dari daerah Blitar. Yang dimaksud dengan Singo Lodoyo adalah sebagai ajang silaturahmi, menambah teman dan melekatkan persaudaraan. Saat kita merasa capek bekerja, dengan reog-an itu capek kita menjadi hilang.
Singo Ladoyo sudah pentas dimana saja?
Singo Lodoyo sudah pentas di beberapa event kebudayaan sampai ke luar kota. Singo Lodoyo tidak hanya pentas untuk orang Indonesi, melainkan di depan masyarakat di Amerika Serikat. Kami pernah pentas di Hari Kemerdekaan Amerika Serikat atau The US 4th July Independence Day Festival di Washington, DC. Dan 15 April 2010 pernah juga tampil di Festival Tahunan Cherry Blossom di jantung kota Washington, DC.
Singo Lodoyo pernah tampil di Asia Heritage Festival pada 22 Mei 2010 di Pennsylvania Avenue, Washington, DC dengan Capitol Hill sebagai latar belakangnya. Pernah tampil di acara Internasional Bowie’s International Festival yang diselenggarakan setiap 4 Oktober, dan lainnya.
Dengan begitu banyak anggota, bagaimana mengaturnya saat akan pentas?
Singo Lodoyo tak pernah sepi pentas, hanya saja terkendala soal waktu. Kesempatan bermain selalu ada, tetapi waktunya terkadang tidak ada. Maklum, karena banyak personal Singo Lodoyo yang bekerja. Di hari biasa memang sulit, tetapi kalau Minggu kami bisa menampilkan reog yang sebenarnya.
Dalam sekali pentas, Reog Singo Lodoyo memboyong puluhan anggotanya yang disesuaikan dengan kebutuhan. Mereka semuanya naik bis, ya kalau pentas di luar kota hitung-hitung piknik keluarga. Semuanya dibawa senang saja.
Untuk pergi pentas, tentu dibutuhkan biaya tersendiri. Bagaimana mengatur soal ini?
Untuk pentas Singo Lodoyo dibayar dengan imbalan. Hitung-hitung uang capek saja ya, misalnya kalau main di Bowie, orang Amerika menghargai dan membayar kami. Uang tersebut dikumpulkan di kas. Setelah banyak uang terkumpul, kami gunakan untuk tur atau jalan-jalan bersama, seperti ke Niagara dan tempat lainnya di Amerika. Intinya, dari kita kembali ke kita.
Sebelum pentas apakah melakukan latihan terlebih dahulu?
Sebelum pentas kami selalu latihan. Reog jika dilihat secara formal seperti itu-itu saja gerakannya. Tapi kami tetap membutuhkan latihan dengan gerakan-gerakan, serta menciptakan gerakan kreasi baru supaya tidak bosan. Dan biasanya latihan dilakukan tiga atau dua hari sebelum melakukan pementasan.
Setelah delapan tahun jalan, apa kunci sukses Singo Lodoyo untuk dapat mampu bertahan?
Musyawarah dan mufakat kita kedepankan. Saling menghargai dan transparan satu sama lainnya.
Lantas bagaimana dengan harapan Singo Lodoyo ke depan?
Mereka yang tergabung dalam Singo Lodoyo punya komitmen supaya dapat maju dan profesional, sekaligus menunjukkan ke mata orang Amerika serikat bahwa Reog Ponorogo sebuah kesenian berasal dari Indonesia. Dari semua paguyuban seni di sini, kami bersatu padu memperkenalkan seni Indonesia. (*)
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU