Login

Username / Email :
Password :
Forgot Password Sign Up
Belum memiliki akun? Daftar Sekarang!
Close [x]
Nasional

Dari Serbia, Menkumham Yasonna Laoly Bawa Pulang Buron Maria Lumowa

Hukum
09 Jul 2020
 Dari Serbia, Menkumham Yasonna Laoly Bawa Pulang Buron Maria Lumowa

hariansuara.com, Jakarta - Menteri Hukum dan HAM Yasonna H. Laoly membawa kabar positif dalam kunjungannya ke Serbia. Yasonna yang memimpin delegasi khusus Indonesia mampu mengangkut pulang buronan Maria Pauline Lumowa.

Nama Maria mungkin masih awam bagi publik. Namun, perempuan berusia 54 tahun ini punya rekam sebagai pembobol Bank BNI senilai Rp1,7 triliun. Maria sudah buron sejak 2003. 

Rencananya, Yasonna dan tim akan tiba di Bandara Soekarno Hatta pada Kamis pagi, 9 Juli 2020.

"Saya menyampaikan bahwa kami telah secara resmi menyelesaikan proses handing over atau penyerahan buronan atas nama Maria Pauline Lumowa dari pemerintah Serbia," kata Yasonna dalam keterangan resmi yang diterima hariansuara, Kamis dini hari, 9 Juli 2020.

Yasonna tak menampik peran pemerintah Serbia yang open membuat proses ekstradisi ini bisa terlaksana. Meski ada beberapa kendala, tapi akhirnya Maria bisa dibawa pulang.

"Lewat pendekatan tingkat tinggi dengan para petinggi Pemerintah Serbia dan mengingat hubungan sangat baik antara kedua negara, permintaan ekstradisi Maria Pauline Lumowa dikabulkan," jelas Yasonna.

Dia menyampaikan terdapat sejumlah kendala seperti upaya Maria yang mau lepas dari jeratan proses ekstradisi. Selain itu, manuver salah satu negara Eropa yang ingin mencegah ekstradisi Indonesia terealisasi.

Komitmen Serbia juga digarisbawahi Presiden Aleksandar Vucic saat bertemu dengan Yasonna. Menurutnya, proses ekstradisi ini salah satu dari sedikit proses ekstradisi di dunia yang mendapat perhatian langsung dari kepala negara.

"Di sisi lain, saya juga sampaikan terima kasih dan apresiasi tinggi kepada Duta Besar Indonesia untuk Serbia, Bapak M. Chandra W. Yudha, yang telah bekerja keras untuk mengatur dan memuluskan proses ekstradisi ini," jelasnya.

Figur Maria Pauline mencuat pada awal tahun 2000-an. Perempuan asal Sulawesi itu adalah salah satu tersangka pelaku pembobolan kas bank BNI cabang Kebayoran Baru lewat Letter of Credit (L/C) fiktif. 

Pada periode Oktober 2002 hingga Juli 2003, Bank BNI mengucurkan pinjaman senilai 136 juta dolar AS dan 56 juta Euro atau sama dengan Rp1,7 triliun dengan kurs saat itu kepada PT Gramarindo Group yang dimiliki Maria Pauline Lumowa dan Adrian Waworuntu.

Aksi PT Gramarindo Group diduga mendapat bantuan dari 'orang dalam' karena BNI tetap menyetujui jaminan L/C dari Dubai Bank Kenya Ltd., Rosbank Switzerland, Middle East Bank Kenya Ltd., dan The Wall Street Banking Corp yang bukan merupakan bank korespondensi Bank BNI.(*) zai/lia 

 

TANGGAPAN ANDA MENGENAI BERITA INI

Senang

0

Tidak Peduli

0

Marah

0

Sedih

0

Takjub

0

Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting

KOMENTAR TERBARU

X
X