
hariansuara.com, Vietnam - Pham Thanh Cong tidak ingat banyak tentang hari di mana keluarganya terbunuh di depan matanya oleh pasukan Amerika dalam pembantaian My Lai. Saat itu baru berumur 11 tahun, dan pingsan setelah sebuah granat meledak di bunker tempat ia bersembunyi.
Lima dasawarsa lewat sejak pembantaian 16 Maret 1968 yang menyebabkan 504 penduduk desa meninggal. Kebanyakannya adalah wanita, anak-anak dan laki-laki yang tidak bersenjata. Cong terus mengingat salah satu kekejaman terburuk perang tersebut.
"Saya mengabdikan diri untuk melindungi kenangan pembantaian ini, untuk memberi tahu orang-orang tentang kebrutalan tentara Amerika," kata Cong dilansir AFP, Jumat, (16/3).
Dia mencoba mengingat akan hari yang gelap itu dengan sedikit keengganan, mengakui bahwa dia masih dihantui oleh kekerasan di Desa Son My, yang oleh orang Amerika disebut My Lai selama perang.
"Saat mengingatnya, saya tidak bisa tidur nyenyak di malam hari. Kenangan kembali akan rasa sakit, kehilangan diri dan keluarga saya membuat sangat sedih," kata Cong.
Saat hari itu dia sedang bersembunyi bersama ibu, saudara laki-laki dan saudara perempuannya di sebuah bunker di rumahnya saat helikopter-helikopter tentara Amerika Serikat mendarat di sawah terdekat di Son My di Vietnam Tengah, yang diyakini merupakan sarang perlawanan Viet Cong.

Prajurit melemparkan granat ke arahnya dan menembak mereka dengan M-16. Dia bilang tinggal di gubuk dari jam 8 pagi sampai jam 4 sore, saat ayahnya mengembara dan menemukannya dalam keadaan hidup.
Pembantaian tersebut, yang ditemukan pada 1970 oleh reporter investigasi Amerika Seymour Hersh, memolarisasi opini publik dan memberi semangat pada sebuah gerakan anti-perang yang meningkat di AS kala itu.
Cong menceritakan hari yang menyakitkan itu untuk memastikan kejadian sama tidak akan pernah terjadi lagi. Populasi muda Vietnam yang melonjak, sekitar setengah dari 93 juta orang di negara itu berusia di bawah 30 tahun. Kebanyakan dari mereka berpaling dari perang yang pernah terjadi hari ini dan sibuk berfokus untuk mendapatkan pekerjaan bagus, sepak bola liga utama, atau aplikasi telepon seluler terbaru.
Cong mengatakan mengingat kembali pembantaian tersebut adalah cara untuk memperingatkan kejamnya perang, dan penting sekali melindungi perdamaian.
Meski jalan beraspal dan bangunan sudah mulai membentuk kembali bagian-bagian provinsi dalam beberapa tahun terakhir, beberapa warga masih berjuang untuk mendapatkan sedikit kehidupan dari pertanian atau perikanan.
"Hidup kami buruk ... Kami menghadapi kesulitan. Banyak keluarga membutuhkan," kata Nguyen Ngoc Long, pemulung batu yang baru berusia dua tahun saat melihat sepupunya terbunuh dalam pembantaian tersebut.
Meski mengalami kerugian selama konflik, penduduk desa seperti Long yang tidak ikut terjun di dalam peperangan itu tidak berhak mendapatkan kompensasi veteran dari pemerintah.
"Kami hanya warga sipil, jadi kami harus menerima kerugian, karena tidak mendapat dukungan sama sekali," kata Truong Thi Hong, 76, yang ibu dan saudara laki-lakinya terbunuh.
Pemerintah Vietnam mengingat kembali 50 tahun pembantaian tersebut pada Jumat (16/6). Pemerintah mengadakan sebuah upacara resmi di tempat peringatan yang biasa digunakan Kro, di mana nama-nama 504 korban terukir di dinding batu.
Sekelompok veteran AS juga menghadiri upacara tersebut, sebuah pertanda hubungan antara Amerika Serikat dan Vietnam sekarang menikmati aliansi yang nyaman. Vietnam telah menyambut empat presiden Amerika sejak akhir perang, dan hari ini Amerika Serikat adalah salah satu mitra dagang utamanya dan sekutu terdekat. (*)
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU