
hariansuara.com, Kuala Lumpur - Penghitungan suara yang dikeluarkan oleh Komisi Pemilihan Malaysia pada Kamis pagi menunjukkan aliansi oposisi Pakatan Harapan (PH), yang dipimpin oleh mantan Perdana Menteri Mahathir Mohamad, memperoleh suara mayoritas dengn 113 kursi dari 222 kursi di majelis rendah parlemen. Hasil ini cukup bagi mereka untuk membentuk pemerintahan federal.
Sementara itu, kursi-kursi yang dipertahankan oleh koalisi Barisan Nasional (BN), yang telah menjalankan negara itu selama lebih dari enam dekade, turun dari 133 pada pemilihan terakhir menjadi 79 kursi.
Hasil ini menandai kembalinya Mahathir Mohamad menjadi perdana menteri di Malaysia.
Lahir di sebuah desa kecil di dekat perbatasan dengan Thailand, Mahathir dikenal sebagai tokoh yang membawa Malaysia menjadi salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di Asia.
Dan diumur 92 tahun, Mahathir akan menjadi pemimpin tertua di dunia. Kemenangan untuk oposisi mengakhiri pemerintahan Najib Razak, mantan anak didik Mahathir. Pada konferensi pers yang diadakan pada Kamis pagi, Mahathir mengatakan akan "berusaha mengembalikan aturan hukum."
Berbagai jajak pendapat sebelum pemilihan telah memprediksi bahwa BN akan memperpanjang cengkeramannya pada kekuasaan. Namun kehancuran BN dimungkinkan oleh "tsunami" Malaysia, kata editorial oleh media lokal Malaysiakini, mengacu pada beralihnya para pendukung inti BN kepada PH. Pemilih inti ini mungkin termasuk orang-orang Melayu di daerah pedesaan, yang telah lama bergantung pada subsidi dan kebijakan yang menguntungkan yang didukung oleh BN.
PH memenangkan lima dari 12 badan legislatif negara bagian, bahkan membobol benteng tradisional BN seperti negara bagian Johor dan Kedah. Jika oposisi membentuk pemerintah, beberapa kebijakan yang diperkenalkan di bawah pemerintahan BN akan dicabut, termasuk Pajak Barang dan Jasa 6 persen yang tidak populer. Mahathir berjanji untuk memperkenalkan kembali subsidi bahan bakar dan menghapus utang petani sawit.(*)
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU