
hariansuara.com, Berlin - Ir Widoyoko, MSc, profesional dan penggiat sejarah perkeretaapian Indonesia, kembali menulis dari Berlin, Jerman dari ajang pameran teknologi dan inovasi perkeretaapian terbesar di dunia. Sesuatu yang sangat dinanti oleh masyarakat dunia, sebagaimana halnya dunia antusias menyambut ekspo teknologi penerbangan seperti Paris Airshow atau Farnborough Airshow.
Event Innotrans diselenggarakan setiap dua tahun sekali pada September. Event yang pertama digelar pada 1996 ini, setiap tahun mengalami peningkatan dalam jumlah pengunjung. Innotrans 1996 yang semula hanya bersifat regional itu dikunjungi hanya sebanyak 6.376 orang profesional. Namun pada 2016 tercatat jumlah pengunjung mencapai 137.391 orang profesional dari seluruh penjuru dunia. Sebuah peningkatan luar biasa yang secara tidak langsung mengukuhkan, bahwa Innotrans merupakan event internasional terpenting di dunia teknologi dan inovasi perkeretaapian.

Untuk para profesional perkeretaapian, ajang Innotrans 2018 berlangsung mulai Selasa hingga Jumat, 18–21 September lalu. Hadir sebanyak 2.955 perusahaan dan institusi besar dan kecil di bidang perkeretapian dan transportasi umum dari 60 negara di dunia.
Innotrans event yang luar biasa, digelar di area sangat luas untuk ruang pamer indoor. Emplasemen yang luas digunakan sebagai tempat pameran aneka produk lokomotip, KRD, KRL, LRT, trams, kereta ukur, dan gerbong barang. Singkatnya, segala rupa sarana dan prasarana perkeretaapian tersaji di sana.
Selain pameran produk dan inovasi baru di bidang perkeretaapian dan transportasi umum, pada event ini juga digelar berbagai seminar dan workshop tentang inovasi-inovasi baru atau memperkenalkan produk baru. Juga dilakukan penandatanganan Memorandum of Understanding atau business contract antara perusahaan dalam lingkup regional maupun internasional, sehingga bobot event Innotrans ini semakin meningkat.
Kereta api merupakan moda transportasi yang ditemukan dan diterapkan pertama kali di Eropa. Baik teknologi maupun industri perkeretaapian, negara-negara Eropa selalu mendominasi ajang Innotrans. Namun setiap tahun negara-negara di Asia tidak mau ketinggalan. Mereka terus meningkatkan kualitasnya. Jepang awalnya merupakan peserta pameran tercanggih dari Asia, diikuti oleh negara-negara Asia lainnya, seperti China, Korea, dan India. Mereka menampilkan produk-produk unggulan masing-masing.

Satu hal yang perlu digarisbawahi pada Innotrans 2018 adalah hadirnya industri China yang secara lebih meyakinkan dari sebelumnya. Kalau dulu mereka hanya memamerkan model kereta berskala, kali ini dengan mantab CRRC memamerkan sebuah lokomotip dan LRT yang sesungguhnya.
Seperti terlihat di foto, iklan CRRC terlihat satu-satunya yang tampil menguasai pintu masuk utama Messe Berlin, tempat diselenggarakannya Innotrans 2018. CRRC sendiri menampilkan booth yang cukup mewah, tidak kalah dari pabrikan Eropa, seperti Alstom atau Siemens.
Hadits Rasulullah S.A.W yang berbunyi, “Belajarlah hingga ke Negeri China” memang terbukti benar. Saat ini Negeri China sangat progresif di segala bidang. Bagaimana dengan Indonesia?
Sebetulnya industri perkeretaapian kita juga memiliki potensi besar dan tidak kalah dari yang lain. Namun, baru PT Len/ LRS satu-satunya BUMN yang sejak 2014 percaya diri untuk tampil di ajang Innotrans. Secara umum, peserta dari Asia terus meningkat setiap tahun, bahkan bersaing dengan pemain-pemain lama.
Peserta Indonesia
Hadirnya PT Len/ LRS untuk pertama kali di ajang Innotrans pada 2014 lalu patut diacungi jempol. Namun, karena kesibukan, pada event Innotrans 2016, PT Len/ LRS absen. Kini, pada 2018, PT Len/ LRS tampil kembali dengan performance yang lebih baik dari sebelumnya.
PT Len/ LRS sendiri menandatangani berbagai MoU dengan perusahaan-perusahaaan/ industri perkeretaapian papan atas. Selain jajaran direksi dan staf PT Len/ LRS, terlihat banyak wajah Indonesia yang hadir mewakili instansi dan BUMN. Sebut saja, dari PT INKA, PT KAI, PT PINDAD, Kementerian BUMN dan Perhubungan, serta BPPT.
Tidak sedikit yang mengaku bahwa mereka datang untuk pertama kalinya. Hal ini menunjukkan gelagat bahwa dunia perkeretaapian mulai tumbuh dan berkembang dengan baik. Bahkan Menteri BUMN, Rini Sumarno, menghadiri ajang Innotrans untuk secara khusus menyaksikan penandatanganan MoU antara BUMN Indonesia dengan pemain papan atas industri perkeretaapian dunia.
MoU yang ditandatangani di antaranya antara PT Len dengan perusahaan papan atas seperti Thales, Wabtec, VRS, HIMA, ALTPRO, TEKTRONIC, SCHNOOR, dan MEN. Diharapkan, ke depan secara bertahap PT Len/LRS bisa memasuki pasar Eropa.

Sedangkan PT INKA menandatangani MoU dengan SKODA (industri Kereta Api Republik Cheko) dan Movement BV. PT Kereta Api Indonesia menandatangani MoU dengan Progress Rail. Upacara penandatanganan MoU yang dihadiri oleh Menteri BUMN Rini Sumarno ini berlangsung mulai sekitar pukul 11:30 hingga 12:30.
Dalam pesannya, Rini Sumarno mewanti-wanti agar pada ajang Innotrans berikutnya BUMN yang terlibat perkeretaapian harus hadir lebih besar lagi. Mungkin akan dibuat “Indonesia Pavilion” seperti yang dilakukan negara-negara lain yang memamerkan kemampuan teknologi dan industri perkeretaapian dalam pavilion yang megah. Akankan ajang Innotrans menjadi jendela bagi kebangkitan perkeretaapian Indonesia? Kita tunggu saja realisasinya.
Ajang Innotrans berlangsung hingga Sabtu dan Minggu. Kali ini kesempatan khusus dibuka untuk masyarakat umum, rail fans dan siapa saja yang tertarik dan mencintai dunia kereta api. Perkeretaapian Jerman agaknya memberi kesempatan kepada semua lapisan masyarakat untuk menikmati perkembangan teknologi yang dapat mereka rasakan langsung dalam kehidupan sehari-hari. (*)
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU