
hariansuara.com, Valkensburg, Belanda - Smalspoormodelbouwdagen 2018, impian yang menjadi kenyataan diambil sebagai judul oleh Ir Widoyoko, MSc, profesional dan penggiat sejarah perkeretaapian Indonesia, juga kontributor hariansuara.com di Negeri Kincir Angin. Untuk Anda yang mencintai Indonesia, khususnya perkeretaapian di Tanah Air, pasti bahagia, sekaligus bangga dengan kabar terkini yang ditulisnya. Mari kita simak tulisannya berikut ini:
Berita diawali dari Nederlandse Smalspoormuseum, sebuah museum Kereta Api yang khusus mengoleksi peninggalan perkeretaapian sepur sempit. Kereta api jenis ini biasa digunakan dalam aktivitas industri, pertambangan dan perkebunan, baik di Belanda maupun Indonesia.
Nederlandse Smalspoormuseum ini sudah cukup umur, berdiri sejak 1970 lalu. Awalnya museum beroperasi di wilayah Pantai Katwijk. Namun, karena tingginya animo publik, maka sejak 25 tahun terahir, lokasi museum dipindah ke lokasi yang lebih baik, yaitu di Valkensburg, tidak jauh dari pusat Kota Leiden.
Bertalian Erat dengan Indonesia
Nederlandse Smalspoormuseum memiliki kaitan sejarah yang erat dengan Indonesia, mengingat di masa lalu sebagian besar produk industri perkeretaapian Belanda diekspor dan digunakan di Indonesia. Sebut saja, pabrik lokomotip, lori dan gerbong, Du Croo en Braun dan pabrik motor lori Simplex. Produk mereka banyak digunakan di perkebunan dan pertambangan di Indonesia dan sisa-sisanya pun masih banyak.
Sejarah tak bisa berbohong. Karenanya, Nederlandse Smalspoormuseum pun pernah menyelenggarakan kegiatan yang berhubungan dengan sejarah dan budaya Indonesia. Kita lihat event yang dinamakan ‘Indonesiedag’ dan juga ‘Pasar Malam’.
Selain itu, Nederlandse Smalspoormuseum juga rutin melakukan kegiatan tahunan di antaranya pameran model dan diorama kereta api. Event yang dinamakan ‘Smalspoormodelbouwdagen’ ini diselenggarakan setiap akhir September. Selama ini sudah berlangsung 19 tahun, jadi 19 kali sudah pameran serupa ini digelar. Tahun ini sendiri acara berlangsung pada 29-30 September.
Pada awalnya Smalspoormodelbouwdagen hanya diikuti peserta internal Belanda. Namun ke belakang, berkembang menjadi event internasional yang cukup diperhitungkan. Pesertanya pun datang dari mancanegara, seperti Belgia, Jerman dan Inggris. Bahkan setiap tahun jumlah peserta pameran, yang umumnya merupakan railway modeller senior peraih award, kian bertambah. Bahkan bermunculan para peserta baru. Dan pada 2018 ini, mencapai rekor terbanyak, 32 peserta! Sepuluh di antaranya peserta pendatang baru, termasuk dari Indonesia.

Kegiatan railway modeling di Belanda dan Eropa secara umum sudah berlangsung sejak sebelum Perang Dunia meletus. Tak heran jika banyak peserta ‘Smalspoormodelbouwdagen’ yang sudah sepuh dan beruban. Tidak sedikit pula peserta yang sudah berhasil menggondol banyak award di berbagai kontes model kereta api.
Impian yang Menjadi Kenyataan
Kegiatan railway modeling di Indonesia termasuk hobi baru yang marak setelah tahun 2000. Dan juga hobi yang tergolong tidak murah, karena hampir semua bahannya harus diimpor dari luar negeri. Mayoritas pehobinya hampir tergolong pemula dan berusia muda dibandingkan railway modeler di Belanda atau Eropa.
Boleh dibilang, railway modeler dari Indonesia termasuk ‘anak bawang’. Tapi hal ini tidak menyurutkan nyali untuk unjuk gigi pertama kalinya di pameran tersebut. Mereka adalah Indra Setia dan Irin Kunadi, railway modeler muda asal Bandung yang menampilkan karya diorama mereka berjudul Tatar Sunda, yang mengangkat alam Priangan.
Rencana awal memamerkan Tatar Sunda sebetulnya dijadwalkan pada 2017 lalu, bertepatan dengan perayaan 150 Tahun KA di Indonesia, yang diselenggarakan oleh Museum Kereta Api Utrecht. Namun, terkendala oleh satu dan lain hal, terutama biaya pengiriman diorama dan transportasi yang tidak sedikit, maka tertangguhkan.
Namun, berkat kerja keras, keuletan mencari sponsor dan kerjasama yang baik, maka rencana yang semula dianggap 'mission impossible' akhirnya atas izin Allah SWT, menjadi ‘possible’. Terutama berkat dukungan sponsor dari PT KAI (Persero) yang bersedia menanggung biaya pengiriman. Adapun biaya selebihnya ditanggung oleh pribadi sang modeler dan sumbangan dari sana-sini.
Diorama Tatar Sunda berukuran panjang 2 m dan lebar 70 cm itu menampilkan jembatan Cibisoro, Stasiun Cimahi, terowongan Sasaksaat dan jembatan Cikuda. Bangunan tersebut persis semasa Zaman Belanda, karena hingga saat ini tidak banyak berubah. Selain itu ada rumah adat Sunda di wilayah Citalang.
Banyak reaksi positif dari pengunjung museum saat melihat diorama Tatar Sunda. Mereka merasa seperti bernostalgia. Kakek atau familinya pernah bekerja sebagai insinyur atau pegawai di Staatsspoorwegen (PT KA zaman Belanda--Red). Ada juga pengunjung yang berkomentar, ‘Saya pernah naik KA dari Jakarta ke Bandung. Pemandangannya sangat mengesankan’.
Pendek kata walau peserta dari Indonesia tergolong pendatang baru dan dilihat dari usia maupun pengalaman tergolong paling muda, tetapi diorama Tatar Sunda berhasil menyedot perhatian pengunjung. Tidak sedikit yang serius dan membuat film dari kereta api yang berjalan meliuk-liuk keluar-masuk terowongan, lalu melintasi jembatan Cibisoro. Yang jelas Tatar Sunda mendapat apresiasi yang baik dari pemirsa Belanda. 
Pendatang baru lainnya yang membuat karya unik adalah diorama mungil hanya sebesar tas koper seukuran kertas A3. Praktis, mudah dibawa dan dipamerkan di mana saja. Diorama tersebut menggambarkan suasana musim dingin sesuai imajinasi sang modeler. Jadi, hanya terdapat satu rel dan satu kereta yang hanya bisa bergerak maju mundur saja.
Seorang pendatang baru dari Inggris membuat diorama trem pedesaan di kampung halamannya di Inggris. Suasana pedesaan dibuat sangat detail dan realistis, sehingga bila kita cermati baik-baik, kita seolah sedang berada di kampung halaman sang modeller. Unik sekali!
Diorama unik lainnya dibuat di atas papan setrika. Mungkin sang modeler memiliki keterbatasan ruangan sehingga nekat membuat diorama di atas papan setrika. Dengan imajinasinya, nyaris semua benda bisa dibuat menjadi sebuah diorama yang unik, sekaligus menyedot perhatian publik. 
Karena itu bagi railway modeler pemula, jangan ragu atau takut mewujudkan ide-ide unik yang ada dibenak Anda. Siapa tahu event Smalspoormodelbouwdagen mampu mengangkat ide Anda menjadi juara pertama. Memang biaya untuk mengikuti event ini tidak murah, tetapi Indra Setia telah membuktikan bahwa railway modeller Indonesia bisa kok mengikuti pameran di event internasional di Eropa. Tetap semangat..!
Selain melihat-lihat model kereta api, pengunjung dapat menikmati perjalanan kereta yang dihela lokomotip uap di jalur museum sepanjang sekitar 3 km. Lokomotip uap yang dikoleksi dan dioperasikan oleh Smalspoormuseum rata-rata berusia hampir 100 tahun. Namun lokomotip tersebut dapat beroperasi dengan normal, karena direnovasi dan dirawat dengan baik. Semua fasilitas ini dapat Anda nikmati sepuasnya, cukup dengan membeli tiket masuk sebesar 10 Euro.
Kereta api uap mulai dijalankan pukul 11:00 pagi, dengan dua kali perjalanan, lalu dilanjutkan dengan 4 kali perjalanan pada siang hari. Pada Musim Panas, biasa mulai April, kereta api uap di Nederlandse Smalspoormuseum ini beroperasi.
Nederlandse Smalspoormuseum belum umum bagi turis dari Indonesia. Untuk Anda penikmat sejarah yang sedang ke Belanda, dianjurkan untuk datang ke sana, karena Anda serasa sedang dibawa ke suasana kolonial tempo doeloe di mana kereta api uap masih menjadi andalan transportasi darat. 
Catatan menarik, semua aktivitas di Nederlandse Smalspoormuseum dikerjakan oleh para sukarelawan. Tanpa bayaran satu sen pun, tetapi ini tidak mengurangi semangat mereka bekerja. Sukarelawan ini masih bekerja normal pada work days, tapi tak sedikit juga yang sudah pensiun. Mereka mengabdikan hari tua bersama para penggemar dan pecinta kereta api untuk melestarikan budaya yang sangat bernilai bagi masyarakat di Belanda dan Indonesia. (*)
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU