
hariansuara.com, Jakarta - 145 paus pilot mati di bagian terpencil pulau kecil Selandia Baru, kata pihak berwenang pada hari Senin (26 November).
Paus-paus itu ditemukan oleh pejalan kaki akhir Sabtu di Pulau Stewart, 30 km di lepas pantai selatan Pulau Selatan.
Setengah dari paus sudah mati dan karena kondisi ikan paus yang tersisa dan lokasi yang terpencil dan sulit diakses, keputusan diambil oleh pihak berwenang untuk "mematikan" sisanya.
"Sayangnya, kemungkinan paus untuk kembali ke laut yang tersisa itu sangat rendah," kata Ren Leppens, manajer operasi Departemen Konservasi di Pulau Stewart.
Lokasi terpencil, kurangnya personil dan kondisi ikan paus yang memburuk berarti hal yang paling manusiawi dilakukan adalah euthanasia. "Namun, itu selalu merupakan keputusan yang menghancurkan hati."katanya
Paus terdampar relatif umum terjadi di pantai Selandia Baru, dengan departemen konservasi mengatakan rata-rata 85 insiden terjadi per-tahun.
Mengapa paus dan lumba-lumba bisa terdampar di pantai tidak sepenuhnya diketahui, tetapi faktor-faktornya dapat mencakup penyakit, kesalahan navigasi, fitur geografis, pasang surut yang cepat, dikejar-kejar oleh predator, atau cuaca ekstrim.(*)
(Foto: Ilustrasi / Channel News Asia)
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU