
Jakarta - Milisi Syiah Irak mengatakan pada hari Rabu telah mengirim lebih dari 1.000 pejuang ke garis depan di Suriah,seiiring dengan meningkatnya keterlibatan asing dalam pertempuran di Aleppo.
Aleppo sendiri telah terbagi selama bertahun-tahun antara sektor pemerintah dan pemberontak. Tentara Presiden Bashar al-Assad menempatkan daerah oposisi dikepung dan sekarang berharap dapat menguasai seluruh kota.
Dilansir Reuters, Kamis, (8/9/2016), Pasukan pemerintah yang didukung oleh kekuatan udara Rusia dan pejuang milisi Syiah Lebanon bertempurdi bawah pengawasan seorang jenderal Iran.
Kedatangan bala bantuan dari Irak, menunjukkan bagaimana konflik Suriah dan Irak menjadi perang sektarian yang luas di Timur Tengah. Hashim al-Moussawi, juru bicara milisi Syiah Irak Harakat al-Nujab, mengatakan para pejuangnya akan memperkuat daerah yang diambil dari para pemberontak di Aleppo Selatan.
Komandan pemberontak mengatakan, mereka sedang mempersiapkan untuk meluncurkan serangan balik untuk mematahkan pengepungan kota. Pemberontak kehilangan kompleks perguruan tinggi militer pada hari Minggu dekat daerah Ramousah dari barat daya Aleppo.
Lima tahun setelah perang di Suriah, ratusan ribu orang telah tewas dan 11 juta lainnya menjadi pengungsi. Tetapi sedikit tanda bahwa pihak manapun siap untuk kemenangan atau dapat memulihkan stabilitas.
Dalam beberapa pekan terakhir, Turki telah mengirimkan pasukannya melintasi perbatasan untuk memerangi ISIS dan Kurdi. Amerika Serikat, yang berusaha untuk menegosiasikan gencatan senjata dengan Rusia, telah didukung pasukan Kurdi maju melawan ISIS.
Sementara itu, nasib sekitar 250.000 warga sipil yang terperangkap di daerah yang dikuasai pemberontak dari Aleppo telah mendorong upaya internasional untuk menyetujui gencatan senjata baru. Tapi Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov dan Menteri Luar AS Negeri John Kerry belum mencapai kesepakatan atas rincian gencatan senjata.
Negara-negara Barat, Turki dan sebagian besar negara-negara Arab menentang pemerintah baik Assad dan ISIS, sementara mendukung faksi anti-Assad lainnya. Rusia dan Iran mendukung Assad.
Serangan gas beracun jelas terbaru menambah kisruh yang ada, sering dengan penggunaan senjata itu yang dilarang untuk memaksa pihak pemberontak untuk menyerah.
Cuplikan dari serangan gas klorin pada distrik Sukari, dekat medan perang utama Aleppo di barat daya kota, menunjukkan anak-anak menangis, kemudian berbaring di tempat tidur rumah sakit dan bernapas melalui respirator.
Petugas penyelamat di daerah yang dikuasai pemberontak mengatakan helikopter militer telah menjatuhkan klorin dalam bom barel. Namun, pemerintah menolak tuduhan itu.
"Kami belum dan tidak akan menggunakan jenis senjata itu," kata seorang sumber militer Suriah yang menuduh pemberontak membuat tuduhan palsu untuk mengalihkan perhatian dari kekalahan mereka.
Namun, pemerintah memiliki catatan dengan tuduhan serupa. Sebuah penyelidikan PBB dan Organisasi untuk Pelarangan Senjata Kimia (OPCW) yang dilihat Reuters bulan lalu mengatakan tentara pemerintah telah bertanggung jawab atas dua serangan gas klorin pada tahun 2014 dan 2015.
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU