
hariansuara.com, Jakarta - Saluran berita terkemuka Bangladesh off air dan tujuh wartawan diserang ketika Bangladesh melakukan pemilihan pada hari Minggu (30 Desember).
Stasiun TV Jamuna mengatakan tindakan itu dilakukan Sabtu malam. "Operator kabel mengambil tindakan atas TV Jamuna tanpa memberi kami penjelasan," kata Fahim Ahmed, kepala redaksi TV Jamuna.
"Kami masih mentransmisikan. Tetapi tidak ada seorang pun di Bangladesh yang dapat melihat saluran kami," katanya.
TV Jamuna yang dimiliki oleh Jamuna Group salah satu konglomerat terkemuka Bangladesh, yang juga mengelola surat kabar dikenal dengan liputan independennya.
Seorang operator kabel top di Dhaka mengatakan siaran Jamuna berhenti karena alasan teknis daripada politis.
"Kami tidak mendapatkan sinyal," kata S.M Ali Chanchal, pemilik operator kabel UCS. Namun Jamuna menolak penjelasan ini dan bersikeras sinyal tidak seperti biasanya.
Pihak berwenang juga telah memerintahkan operator seluler negara itu untuk menutup layanan 3G dan 4G untuk mencegah penyebaran desas-desus yang dapat memicu keresahan.
Sementara itu, selama pemilihan hari Minggu tujuh wartawan mengatakan diserang oleh aktivis pro-pemerintah dalam bentrokan terpisah, di mana sejumlah dari mereka terluka dan peralatannya dirusak.
Wartawan, termasuk dua dari AFP, juga dicegah mengambil gambar di beberapa pusat pemungutan suara oleh aktivis pro-pemerintah.
Fotografer Shahidul Alam yang dibebaskan dari penjara bulan lalu, juga terluka dalam keributan di luar pusat pemungutan suara.
"Beberapa aktivis pro-pemerintah tiba-tiba mendekati dan mencoba mengambil peralatan kami. Mereka juga memukul kami," kata fotografer Sumon Paul, rekan dekat Alam.
Seorang reporter yang bertugas dan seorang fotografer dari tabloid Bengali, Manabzamin, juga diserang ketika meliput pemilihan di ibukota Dhaka.
"Mereka diserang dan kamera fotografer diambil," kata editor Manabzamin Motiur Rahman Chowdhury.
Dua jurnalis foto lain dari harian lokal Manob Kantho juga terluka ketika mereka diserang oleh para penyerang yang tidak dikenal.
"Sekitar 20-30 orang tiba-tiba menyerang dan mulai memukuli kami. Mereka juga merusak kamera kami," kata fotografer Jubair Rakesh.
Ada banyak tuduhan bahwa pemerintah Perdana Menteri Sheikh Hasina telah membatasi kebebasan pers menjelang pemungutan suara.
Fotografer Shahidul Alam bahkan ditahan selama hampir empat bulan setelah dituduh membuat pernyataan palsu dan provokatif terhadap Hasina di Facebook.
Selain itu, dua editor pro-oposisi ditahan selama berbulan-bulan karena tuduhan palsu sementara editor dua harian berpengaruh dituduh melakukan penghasutan dan terlibat sejumlah kasus pencemaran nama baik.
Dalam beberapa bulan terakhir, pemerintah Hasina telah memperkuat undang-undang keamanan digital, yang menurut kelompok hak asasi dan jurnalis menyulitkan mereka membuat berita investigatif.(*)
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU