Login

Username / Email :
Password :
Forgot Password Sign Up
Belum memiliki akun? Daftar Sekarang!
Close [x]
Internasional

AIMEP 2019 Bangun Persaudaraan Antarmuslim Indonesia dan Australia

Internasional
24 Apr 2019
AIMEP 2019 Bangun Persaudaraan Antarmuslim Indonesia dan Australia

hariansuara.com, Australia - Sejak 2002, Australia-Indonesia Institute (AII) mengadakan pertukaran tokoh muslim muda antara Indonesia dengan Australia. Tahun ini AII bekerjasama dengan Universitas Paramadina menyelenggarakan program tahunan yang dikenal dengan sebutan Australia-Indonesia Muslim Exchange Program (AIMEP).

Peserta program AIMEP diundang ke Australia selama dua minggu lamanya. Kegiatan diisi dengan bertemu para tokoh dan aktivis muslim muda setempat, saling bertukar pikiran tentang kehidupan sosial, budaya, serta peranan agama di negara masing-masing.

Program Director AIMEP 2019, Rowan Gould, mengatakan, program yang berjalan rutin ini telah memberikan dampak positif terhadap masing-masing komunitas muslim, baik di Australia maupun di Indonesia. “Program ini menjadi wadah bagi para tokoh muda Indonesia untuk saling bertukar pikiran dan pandangan terhadap keberagaman budaya dan agama serta tantangan-tantangan yang dihadapi di kedua negara. Yang menarik sekali, antusiasme masyarakat Indonesia untuk mengikuti program ini terus meningkat.“

Tahun 2019 ini, peserta AIMEP berasal dari berbagai latar belakang dan daerah yang berbeda. Mereka adalah Emil Radhiansyah, Feri Firmansyah, Irfan Sarhindi, Marini Sayuti dan Ni Putu Desinthya Ayu Azhari. Emil seorang dosen di salah satu universitas swasta di Indonesia, kemudian Feri yang aktif sebagai anggota Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Surakarta, lalu Irfan Sarhindi penulis, Marini Sayuti bekerja sebagai jurnalis dan presenter TVMU serta Dita yang bekerja sebagai auditor di salah satu Bank Syariah di Indonesia.

Indonesia yang sedang berkembang dengan tantangan tersendiri. Sebut saja, dari aspek sosial dengan keberagaman suku dan agama. Indonesia dengan jumlah pemeluk agama Islam terbesar di dunia, tentu memiliki peran strategis dalam perspektif kebijakan Islam. Sementara Australia ternyata juga memiliki keragaman budaya dan agama. Inilah alasan mengapa Australia menjadi tempat terbaik untuk memahami hal ini. 

Selama dua minggu mengikuti program, dari 31 Maret hingga 14 April, kelima peserta berkesempatan mengunjungi tiga kota besar di Australia. Destinasi pertama, Melbourne yang terletak di Negara Bagian Victoria, sekaligus Ibu Kota Victoria. Di sini mereka diajak ke Flagstaff Garden untuk bertemu Andrew Gardiner, biasa disapa Uncle Andrew, salah seorang tetua yang berasal dari suku Aborigin Wurundjeri. Ia menceritakan bagaimana suku Aborigin melakukan kontak pertama kali dengan para pedagang Muslim dari Makassar. 

Kemudian peserta mengunjungi markas Western Buldogs, bertemu Kashif Bouns, Manajer Umum Lembaga Komunitas Western Bulldogs. Melalui lembaga tersebut, Kashif dan anggotanya memanfaatkan olahraga, terutama popularitas AFL untuk menyelenggarakan program di berbagai bidang, termasuk kesehatan dan kesejahteraan, serta program inklusi komunitas dan sosial.

Rowan mengatakan, kesempatan bertemu dengan berbagai komunitas di Australia ini menjadi wadah untuk menyampaikan perspektif dan diskusi yang intensif. “Selama pertemuan dengan komunitas muslim dan juga interfaith community di Australia, para peserta saling melontarkan pertanyaan-pertanyaan terkait isu yang sedang berkembang. Program ini memfasilitasi mereka yang memiliki visi dan misi untuk memberikan perspektif lebih baik terhadap kedua negara.”

Selain bertemu sejumlah komunitas dan lembaga keagamaan di Australia, mereka juga berkunjung ke sekolah dan berdiskusi tentang sistem pendidikan di sana. Salah satunya, ke sekolah swasta Kristen, Balcombe Grammar. Para peserta diajak mengelilingi sekolah, bertemu langsung dengan siswa dan kepala sekolah. 

Menurut Irfan, sekolah ini sangat berbeda dari sekolah di Indonesia. “Siswa dapat memilih mata pelajaran yang mereka sukai. Nilai pribadi atau kualitas pribadi siswa sangat diutamakan. Siswa dididik untuk memiliki rasa humanity dan toleransi yang tinggi, sehingga mereka dapat menempatkan diri dalam pergaulan yang sangat multicultural,” ujar lulusan University College London tersebut.  

Berbeda dengan Dita, peserta asal Bogor, Jawa Barat. Ia mengungkapkan perbedaan pelaksanaan lembaga keuangan berbasis syariah di Australia dan Indonesia. “Di Indonesia perkembangan keuangan syariah sudah didukung pemerintah, dan lembaga keuangan syariah berperan dalam meningkatkan literasi keuangan syariah bagi masyarakat. Sedangkan di Australia, kebutuhan akan adanya produk keuangan syariah datang dari komunitas-komunitas muslim yang ada di sana,” tandasnya.

Jadwal kegiatan yang padat tak terasa telah terlampaui. Cukup lumayan bagi para peserta untuk memahami dan 'mencuri' ilmu dari Negara Kanguru. Diharapkan, setelah mengikuti program AIMEP ini akan dapat meningkat rasa saling pengertian, kerjasama, dan toleransi antara Australia dan Indonesia. Lebih jauh lagi, dapat membangun rasa persaudaraan antara masyarakat Muslim di Australia dan Indonesia, serta meningkatkan kesadaran tentang kemajemukan dan dialog antaragama di kedua negara. (*)

 

TANGGAPAN ANDA MENGENAI BERITA INI

Senang

0

Tidak Peduli

0

Marah

0

Sedih

0

Takjub

0

Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting

KOMENTAR TERBARU

X