Login

Username / Email :
Password :
Forgot Password Sign Up
Belum memiliki akun? Daftar Sekarang!
Close [x]
Internasional

Aksi Silat Peserta AIMEP 2019 Pukau Gubernur New South Wales

Internasional
30 Apr 2019
Aksi Silat Peserta AIMEP 2019 Pukau Gubernur New South Wales

hariansuara.com, New South Wales - Mengikuti program Australia-Indonesia Muslim Exchange (AIMEP) 2019, tidak hanya memberikan pengalaman dalam koridor keagamaan, namun peserta di antaranya beroleh kehormatan berkunjung ke Government House. Di sana bertemu dengan Gubernur New South Wales, The Honourable David Hurley, beserta istri, Ms Linda Hurley.

Pertemuan langka yang singkat itu tentu saja dimanfaatkan para peserta untuk mengutarakan pengalaman mereka selama mengikuti program AIMEP di Australia. Di samping juga usaha untuk mempererat hubungan Australia-Indonesia setelah pulang ke Indonesia.

Salah satu peserta, Feri Firmansyah, yang berasal dari Surakarta, Jawa Tengah, menampilkan atraksi Pencak Silat di hadapan Gubernur David Hurley. Aksi lincahnya memperagakan gerakan-gerakan silat mengundang decak kagum Sang Gubernur. Anggota MUI Surakarta ini memang pernah mendalami ilmu bela diri pencak silat bertahun lamanya, dan menjadi guru untuk para santri di Surakarta. 

“Saya dulu memang pernah belajar ilmu bela diri, salah satunya pencak silat. Karena ini adalah tradisi orang Jawa yang menjaga pertahanan diri dengan silat, maka harus dilestarikan,” tuturnya bangga bisa menunjukkan jurus-jurus tertentu di depan Gubernur.

Feri Firmansyah Unjuk Kebolehan Pencak Silat

Atraksi selama kira-kira 5 menit tersebut membuat suasana kantor Government House Sydney, Macquarie St. menjadi tidak biasa, Terlebih alunan instrumen musik yang diputar semakin menjiwai pertunjukan tersebut. Tepuk tangan tanda apresiasi pun diberikan kepada Feri pada pagi hari itu.

Menurut Rowan Gould, pemangku program AIMEP 2019, program rutin ini dilakukan untuk menjalin hubungan baik antarkedua Negara, dan memperkenalkan berbagai komunitas-komunitas, baik komunitas Islam maupun komunitas agama lain.

“AIMEP itu program pertukaran antara komunitas muslim Indonesia dan Australia, sudah berjalan hampir 18 tahun. Program ini tujuannya untuk membangun pengetahuan dan persaudaraan antara komunitas muslim Indonesia dan Australia, serta komunitas penduduk Australia dan Indonesia secara umumnya," jelas Gould.

Para Peserta Pria dalam AIMEP 2019 Berfoto Bersama

"Program AIMEP dilakukan beberapa kali setahun.  Jadi para tokoh muda Australia dan Indonesia datang ke negara tetangga dan mengunjungi berbagai organisasi. Baik itu organisasi Islam atau organisasi agama lainnya serta tokoh-tokoh penting seperti pemerintah dan sebagainya.”

Program AIMEP itu berlangsung sejak 31 Maret hingga 14 April 2019. Panitia memilih lima orang Indonesia antara usia 23 hingga 40 tahun dari seluruh Indonesia untuk diberangkatkan ke Australia. Peserta kali ini adalah Emil Radhiansyah, Feri FIrmansyah, Irfan Sarhindi, Marini Sayuti dan Ni Putu Desinthya.

Salah satu peserta yang berprofesi sebagai jurnalis, Marini, juga mengungkapkan kebahagiaannya terpilih dalam program AIMEP 2019 ini. “Tentunya saya sangat bangga dan bahagia sekali bisa ikut berpartisipasi dalam program pertukaran muslim ini. Saya kira program ini sangat penting, karena dengan mengetahui secara langsung bagaimana komunitas muslim dan non muslim di Australia ini bisa selaras, harmonis dan memiliki rasa toleransi yang tinggi, patut kita tiru dan aplikasikan di Indonesia. Selain itu isu-isu tentang perspektif orang Australia yang dianggap buruk ataupun sebaliknya bisa kita hilangkan,” kenangnya. 

Emil, dosen Hubungan Internasional di salah satu Universitas Swasta di Jakarta ini, juga mengutarakan kebanggaannya bisa bertemu langsung dengan Gubernur David Hurley. Melalui program AIMEP 2019 ini ia ingin sekali menyampaikan hal-hal baik tentang keragaman budaya dan agama di Australia kepada mahasiswanya. 

“Mengetahui bahwa masyarakat Australia sebagian besar tidak memiliki agama, sempat membuat kaget. Tetapi pada kenyataan sebenarnya sebagian besar masyarakat Australia memiliki keyakinan atas kepercayaan dan keagamaan. Dengan mengikuti program ini semakin membuat pengetahuan saya mendalam mengenai masyarakat Australia, baik muslim atau non muslim. Bagaimana mereka membangun kedekatan, berdialog sehingga timbul kepercayaan satu sama lain dan membangun satu identitas masyarakat Australia yang sangat dinamis.”

Kelima peserta juga berkesempatan mengunjungi beberapa tempat penting, di antaranya sekolah Granville East Public School, bertemu dengan Jihad Dib (Perlementer New South Wales), National Australia Bank (NAB), Sydney Jewish Museum, United Muslims of Australia (UMA), Islamic Sciences and Research Academy of Australia (ISRA), Auburn Gallipoli Mosque, Canberra Interfaith Forum (CIF) dan masih banyak lainnya. (*)

 

TANGGAPAN ANDA MENGENAI BERITA INI

Senang

0

Tidak Peduli

0

Marah

0

Sedih

0

Takjub

0

Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting

KOMENTAR TERBARU

X