
hariansuara.com, Jakarta - Pameran Memory of the World: Panji – Diponegoro – La Galigo, dibuka Perpustakaan Universitas Leiden (UBL). Acara yang berlangsung di Ruang Vossius, UBL, dari tanggal 23 Mei 2019 - 1 September 2019 ini dihadiri oleh sekitar puluhan tamu undangan, termasuk Duta Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Belanda, I Gusti Agung Wesaka Puja.
Andree van Es, Ketua UNESCO Komisi Belanda, membuka acara kemudian disusul dengan pemaparan mengenai pentingnya tiga naskah UNESCO di Leiden oleh Roger Tol, mantan pustakawan KITLV-Jakarta.
Usai pertunjukan tari topeng Panji oleh kelompok tari Jawa Kuwung-kuwung, kurator Asia Selatan dan Tenggara UBL, Doris Jedamski, memberi paparan mengenai pameran Memory of the World: Panji – Diponegoro – La Galigo.
Manuskrip Panji, otobiografi Pangeran Diponegoro, dan epos La Galigo, termasuk karya sastra paling menginspirasi dari Asia Tenggara, khususnya Indonesia. Ketiganya memiliki arti penting bagi sejarah sastra dan budaya Asia Tenggara, sehingga dimasukkan dalam Memory of the World Register of UNESCO. Pameran Memory of the World: Panji - Diponegoro - La Galigo difokuskan pada konten, fungsi, dan penggunaan naskah.
Kisah-kisah Panji meraih popularitas di seluruh Asia Tenggara pada abad ke-14 dan ke-15, dan menandai langkah penting dalam pengembangan sastra Jawa. Kronik Pangeran Diponegoro (1785-1855) ditulis selama pengasingannya di Sulawesi Utara.
Sedangkan manuskrip La Galigo, yang tebalnya 6.000 halaman, ditulis pada abad ke-19 dan ke-20 dari tradisi lisan Bugis kuno. La Galigo dicatat dalam aksara khas Sulawesi Selatan dan dianggap sebagai epik mitos paling komprehensif di dunia.(*)
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU