
hariansuara.com, Jakarta - Bagaimana kegigihan seorang ayah menjaga keluarganya bertahan hidup di kamp pengungsi terbesar di dunia?
Inilah Abu Ahmad, seorang ayah 52 tahun dari delapan orang anak, empat perempuan dan empat laki-laki. Di Myanmar, tempat dia lahir dan besar, Abu Ahmad menghabiskan harinya merawat ladang dan membesarkan anak-anaknya bersama sang istri.
“Saya selalu punya banyak kekhawatiran; kekhawatiran tentang masa depan," kata Ahmad.
“Usaha dan mata pencaharian, kami hasilkan sendiri,” ujar Abu Ahmad. “Tapi kami mendapat banyak ancaman dan siksaan dari pemerintah di Myanmar. Jika seseorang ingin mendapat pendidikan lebih tinggi, orang tersebut harus lari ke luar negeri karena jika pemerintah tahu, mereka akan menangkapnya.”
Orang-orang Rohingya adalah salah satu kelompok minoritas yang paling teraniaya di dunia. Menyusul kampanye kekerasan ekstrem terpadu oleh otoritas Myanmar terhadap orang-orang Rohingya di negara bagian Rakhine Myanmar pada Agustus 2017, lebih dari 700.000 Rohingya melarikan diri melewati perbatasan ke distrik Cox’s Bazar di Bangladesh. Lebih dari 900.000 Rohingya tinggal di berbagai kamp Cox's Bazar saat ini.
Sejak melarikan diri dari Myanmar, Abu Ahmad dan keluarganya sekarang tinggal di kamp Kutupalong di Cox’s Bazar selama hampir dua tahun. Seperti kebanyakan pengungsi Rohingya di kamp, ini adalah pertama kalinya mereka tinggal di tempat lain selain di negara asal mereka.
Sebelum kekerasan terjadi, anak perempuan Abu Ahmad yang berusia 11 tahun, Rukia, menjadi lumpuh karena alasan yang tidak diketahui dan membutuhkan bantuan medis segera.
Abu Ahmad dan istrinya harus membuat keputusan sulit untuk melarikan diri bersama Rukia terlebih dahulu sementara anak-anak mereka yang lain harus menyusul mereka kemudian.
Dia menceritakan bagaimana rasanya meninggalkan anak-anaknya di waktu yang berbahaya sambil berusaha untuk mencari pengobatan bagi Rukia dan harus menetap di negara baru.
Hampir satu juta pengungsi Rohingya yang tinggal di kamp-kamp di Cox's Bazar tetap rentan terhadap risiko kesehatan yang serius. Mereka tinggal di ruang yang penuh sesak dan sempit dan rentan terhadap banjir serta tanah longsor selama musim hujan. Banyak orang kekurangan akses terhadap air bersih, sanitasi, perawatan kesehatan, dan tempat tinggal. Wabah berbagai penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin telah muncul di antara penduduk.
Organisasi kemanusiaan internasional Médecins Sans Frontières (MSF), juga dikenal sebagai Dokter Lintas Batas, telah memberikan lebih dari satu juta konsultasi medis kepada para pengungsi dan masyarakat setempat sejak eksodus massal pada tahun 2017. Tim MSF telah secara signifikan meningkatkan layanan medis yang ada sertia upaya air dan sanitasi untuk mendukung kebutuhan di 'megacamp'
Sebagian besar pengungsi Rohingya mengalami peristiwa traumatis. Banyak yang menderita atau menyaksikan kekerasan dan kehilangan kerabat dan teman dekat.
“Banyak orang yang ingin pulang, tetapi itu tidak mungkin. Sehingga, mereka merasa putus asa,”ujar Jessica Patti, Koordinator Medis MSF. “Sejak awal, menyediakan layanan kesehatan mental telah menjadi prioritas. Pada Maret 2019, MSF telah melakukan lebih dari 67.150 sesi kesehatan mental individu dan kelompok di seluruh kamp."
Sementara Bangladesh menunjukkan kemurahan hati dengan membuka pintunya bagi para pengungsi, hampir dua tahun kemudian, nasib orang-orang Rohingya tetap penuh ketidakpastian. Negara-negara tuan rumah di wilayah tersebut menyangkal semua status hukum formal mereka, terlepas dari kenyataan bahwa mereka adalah pengungsi dan telah dibuat tanpa kewarganegaraan oleh Myanmar.
“Kami bukan masyarakat tak bernegara. Kami masih dari Myanmar. Nenek moyang kita berasal dari sana,” ujar Abu Ahmad. “Kami siap untuk kembali ke negara kita. Tapi bagaimana kami bisa kembali sementara masih ada kekerasan di sana?.(*)
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU