Login

Username / Email :
Password :
Forgot Password Sign Up
Belum memiliki akun? Daftar Sekarang!
Close [x]
Internasional

Romo Magnis Tegaskan Dukungan Untuk NU Dan Muhammadiyah Terima Penghargaan Nobel

Internasional
22 Jun 2019
Romo Magnis Tegaskan Dukungan Untuk NU Dan Muhammadiyah Terima Penghargaan Nobel

hariansuara.com, Jakarta - Romo Prof. Dr. Franz Magnis Suseno  mendukung NU dan Muhammadiyah sebagai nominator penerima penghargaan Nobel Perdamaian. 

Magnis Suseno menyatakan NU dan Muhammadiyah memiliki andil besar dalam merekatkan bangsa Indonesia yang sangat majemuk, bahkan jauh sebelum kemerdekaan. Kiprah NU dan Muhamadiyah tersebut tak hanya dirasakan oleh mayoritas kelompok muslim tapi juga oleh minoritas non-muslim.

Pernyataan Romo Magnis itu disampaikannya di depan pejabat Kemlu Norwegia, Dubes Norwegia untuk Indonesia, Dubes Indonesia untuk Norwegia, kelompok think tank serta kalangan media, pada seminar di Oslo, Kamis, (20/6/2019).

“Saya sudah sejak lama sangat mengenal kedua organisasi ini. Kita tahu, Indonesia telah lama punya sejarah gerakan radikal. Seperti gerakan DI-TII tahun 1950 -1966 yang mengancam wilayah Jawa Barat, Aceh, dan Sulawesi Selatan. Kemudian sekitar tahun tujuh puluhan beberapa ideologi Islam dari Timur Tengah, seperti Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir dan Wahabi, menjalar di Indonesia. Demikian pula pengaruh mujahidin dari Afghanistan. Tokoh NU dan Muhamadiyah saat itu berjuang keras agar pengaruh-pengaruh tersebut berhenti berkembang”, ujar Romo Magnis.

Lebih lanjut ia menyimpulkan tiga prinsip fundamental dari kiprah NU dan Muhammadiyah untuk perdamaian dan memajukan toleransi di masyarakat. Pertama, senantiasa menjunjung tinggi kebhinnekaan, kebebasan beragama, dan keterbukaan demokrasi. Kedua, senantiasa menolak keras diskriminasi antar pemeluk agama, pendirian negara Islam yang berasas hukum syariah, serta segala bentuk radikalisme dan ekstrimisme. Dan ketiga, menanamkan dan mengembangkan warisan nilai budaya Indonesia yang mengutamakan kerukunan, kebersamaan, serta menghargai hak orang lain.

“Intinya, sebagai pendeta katolik dan bagian dari kelompok minoritas saya mengakui NU dan Muhammadiyah meskipun jadi mayoritas tidak pernah menjadi ancaman bagi kami kelompok minoritas. Sebaliknya, kehadiran kedua organisasi ini di tengah masyarakat Indonesia memberikan rasa aman dan jaminan bahwa nilai-nilai pluralisme dan toleransi akan tetap terjaga dan tumbuh di Indonesia”, tutur Romo Magnis.

Selain Romo Magnis, seminar juga menghadirkan pembicara Prof. Dr. Azyumardi Azra dan Yenny Wahid. Prof Azra yang menyampaikan paparan sebelum Romo Magnis menekankan peran NU dan Muhammadiyah dalam memajukan perdamaian dan persatuan bangsa tidak terlepas dari pijakan kebangsaaan yang kuat yang diletakkan oleh para pendiri bangsa. Tepo seliro dan toleransi sudah menjadi karakter bangsa dari dulu. Seperti halnya orang jawa yang saat itu dominan tidak memaksakan Bahasa Jawa sebagai bahasa nasional. Akan tetapi memilih bahasa melayu dari kelompok minoritas, sebagai dasar dari bahasa nasional. Begitu juga bagaimana ulama-ulama waktu itu terutama dari NU dan Mumadiyyah tidak memaksakan Islam sebagai agama negara dan syariat Islam sebagai dasar hukum negara. Meskipun pada waktu itu Islam adalah agama mayoritas.

Prof Azra juga mencontohkan pengaruh besar NU dan Muhamdiyah terlihat pada saat Indonesia dilanda krisis pasca runtuhnya Orde Baru tahun 1998. Saat itu Gus Dur yang merupakan tokoh NU terpilih sebagai Presiden Indonesia. Sementara Amin Rais dari Muhammadiyah menjadi Ketua MPR-RI.

“Meski banyak yang mengkhawatirkan Indonesia akan pecah tapi saya tetap optimis selama kita bisa menjaga Pancasila dan nilai-nilai kebangsaan yang telah diwariskan pendiri bangsa, Indonesia akan tetap utuh. Dan kita yakin NU dan Muhammadiyah adalah guardian nilai-nilai tersebut untuk tetap tumbuh di masyarakat”, jelas Prof Azra.

Sementara Yenny Wahid  mengatakan untuk bisa melawan radikalisme maka perlu diteliti kelompok mana saja yang rentan dan menjadi target dari kelompok radikalis.

“Kalau kita amati setidaknya ada beberapa sebab. Diantaranya ketakutan yang berlebih dan selalu merasa kekurangan materi, memahami litelatur agama secara tekstual saja, gampang terpengaruh oleh informasi keliru dari kelompok-kelompok yang mengatasnamakan agama yang cindering menyebar kebencian. Sebab lainnya adalah mereka yang memiliki kecenderungan terhadap intoleransi dan menafikan hak kelompok yang berbeda paham”, ujar Direktur Wahid Institut ini.

Yenny juga menekankan perlunya NU dan Muhammadiyah untuk menjadi aktor utama dalam melakukan konter narasi dan konter identitas terkait maraknya hoaks dan fakenews di media sosial.(*)

TANGGAPAN ANDA MENGENAI BERITA INI

Senang

0

Tidak Peduli

0

Marah

0

Sedih

0

Takjub

0

Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting

KOMENTAR TERBARU

X
X