
hariansuara.com, Jakata - Lebih dari 400.000 orang telah mengungsi di Suriah barat laut selama tiga bulan terakhir, kata PBB Jumat (26 Juli).
Kepala Hak Asasi Manusia PBB Michelle Bachelet mengutuk "ketidakpedulian internasional" dalam menghadapi meningkatnya jumlah korban tewas akibat serangan udara pro-pemerintah di sekolah-sekolah, rumah sakit, pasar dan toko di kawasan itu.
Wilayah Idlib seharusnya dilindungi oleh perjanjian gencatan senjata internasional yang telah berumur beberapa bulan, tetapi justru menghadapi pemboman yang terus meningkat oleh pasukan pro-pemerintah dan sekutunya Rusia sejak akhir April.
"Lebih dari 400.000 orang telah melarikan diri dari kekerasan di daerah itu sejak akhir April," kata David Swanson dari kantor koordinasi kemanusiaan PBB OCHA.
Lonjakan kekerasan telah menewaskan lebih dari 740 warga sipil, menurut Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia. Pada minggu ini serangan udara pasukan pemerintah menghantam pasar di Kota Saraqib, Provinsi Idlib, serangan kedua di pasar tersebut.
Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia mengatakan seorang warga sipil tewas dan beberapa lainnya terluka di sana, empat hari setelah serangan serupa yang menewaskan lebih dari tujuh orang. Dan dua warga sipil lainnya tewas dan 20 lainnya terluka dalam serangan rezim di tempat lain di kawasan itu.
"Pasar al-Hal adalah salah satu pusat komersial utama kota," kata Layth al-Abdullah, pekerja penyelamat di kota itu dikutip AFP. Dia mengatakan rezim pemerintah telah menunjukkan kebiadaban dalam pembunuhan warga sipil dan perusakan properti.
Bachelet memperingatkan soal serangan rezim pemerintah yang berkelanjutan terhadap sekolah, rumah sakit, pasar dan toko roti di wilayah Idlib. "Itu adalah obyek sipil, serangan yang disengaja terhadap warga sipil adalah kejahatan perang, dan mereka yang telah memerintahkan atau melaksanakannya harus bertanggung jawab secara pidana atas tindakannya."
Wilayah Idlib adalah rumah bagi sekitar tiga juta orang dan hampir setengah dari mereka sudah mengungsi. Sebagian besar pengungsi berasal dari Idlib selatan dan Hama utara, dua daerah yang paling parah dilanda perang.
"Sekitar 100 sekolah di Idlib sekarang menampung orang-orang terlantar, kata OCHA. "Banyak yang dipaksa untuk hidup di udara terbuka karena kepadatan di kamp-kamp dan pusat-pusat penerimaan."
Wilayah Idlib sendiri dikendalikan oleh aliansi jihadis Hayat Tahrir al-Sham yang dipimpin oleh mantan afiliasi Suriah Al-Qaeda.
Kesepakatan di bulan September antara Moskow dan Ankara seharusnya membebaskan wilayah itu dari pertumpahan darah, tapi tidak pernah sepenuhnya dilaksanakan karena para jihadis menolak untuk menarik diri dari zona penyangga yang direncanakan. Pasukan pro-pemerintah sejak itu meningkatkan intensitas pemboman dalam beberapa pekan terakhir. (*)
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU