
Jakarta - Pria bersenjata menembak mati penulis Yordania Nahed Hattar di luar pengadilan saat akan menghadapi tuntutan penistaan agama Islam.
Hattar ditembak tiga peluru sebelum penyerang tak dikenal ditangkap pada hari Minggu, kantor berita negara Petra melaporkan dilansir Aljazeera, Senin, (26/9/2016).
Saksi dan polisi mengatakan Nahed Hattar akan memasuki gedung pengadilan untuk sidang ketika pria bersenjata menembaknya dari jarak dekat. "Dia berdiri di jarak dekat sekitar satu meter di depan Nahed di tangga dari Mahkamah Agung," kata seorang saksi mata.
Hattar ditangkap pada 13 Agustus setelah membuat karikatur di akun Facebook-nya yang menggambarkan seorang pria berjanggut di surga merokok di tempat tidur dengan wanita, meminta Tuhan untuk membawa dia anggur dan kacang mete.
Dia lalu menghapus kartun lama kemudian mengatakan " karikatur itu untuk mengolok-olok teroris dan konsep mereka tentang Tuhan dan surga”. Pihak berwenang mengatakan Hattar telah melanggar hukum menyebarluaskan karikatur. Dia didakwa dengan menghasut perselisihan sektarian dan menghina Islam.
Juru bicara pemerintah Mohammad Momani mengutuk pembunuhan Hattar sebagai kejahatan keji. Tapi pendukung Hattar mengatakan, pemerintah bertanggung jawab untuk penembakan, menuduh Perdana Menteri Hani al-Mulki menciptakan suasana bermusuhan yang mendorong kekerasan terhadap penulis.
"Perdana menteri adalah orang pertama yang menghasut melawan Nahed ketika ia memerintahkan penangkapan dan mengadilinya, dan memicu kebencian masyarakat terhadap dirinya dan menyebabkan pembunuhan," kata Saad Hattar, sepupu penulis.
Daoud Kuttab, pemenang penghargaan jurnalis dan direktur Komunitas Media Network, mengatakan pembunuhan Al Jazeera Hattar ini merupakan "situasi yang menakutkan di mana orang-orang dengan opini yang tidak kita sukai atau pemerintah tidak suka menjadi rentan terhadap pembunuhan". "Ini adalah kasus teror intelektual," kata Kuttab.
"Pertanda banyak orang sekarang akan khawatir tentang apa yang mereka katakan ... Ini situasi yang menakutkan bagi orang-orang yang percaya pada kebebasan berpikir dan berpendapat dan hak untuk mengekspresikan pendapat mereka."
Anja Wehler-Schoek, dari Yayasan Friedrich Ebert di Yordania, mengatakan "Ini jelas merupakan hari yang sangat gelap untuk Jordan, saya sangat khawatir kita melihat akhir dari sebuah era di sini dan semakin banyak masalah yang akan datang di masa depan."
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU