Login

Username / Email :
Password :
Forgot Password Sign Up
Belum memiliki akun? Daftar Sekarang!
Close [x]
Internasional

Indonesianis di Berlin Bantu Kenalkan Indonesia Ke Eropa

Internasional
14 Sep 2019
Indonesianis di Berlin Bantu Kenalkan Indonesia Ke Eropa

hariansuara.com, Jakarta - Ratusan Indonesianis sekaligus peneliti dari berbagai negara menghadiri Konferensi ke-10 European Association for Southeast Asian Studies (EuroSEAS). Konferensi ini diselenggarakan di Universitas Humbold, Berlin pada 10 – 13 September 2019.

Dubes RI untuk Jerman, Arif Havas Oegroseno mengundang mereka pada acara resepsi yang berlangsung di KBRI Berlin, Kamis, 12 September 2019.

Dubes Oegroseno menyebutkan bahwa peran para peneliti peserta Euroseas ini sangat besar. Mereka merupakan motor untuk membantu memberikan pemahaman kepada publik di Eropa tentang potensi sebenarnya yang dimiliki oleh Indonesia, serta negara-negara Asia Tenggara pada umumnya.

“Dari pengamatan saya, publik Eropa melihat Indonesia atau Asia Tenggara secara keseluruhan belum pada potensi yang sesungguhnya. Perhatian mereka masih terkonsentrasi di Tiongkok,” jelas Dubes Oegroseno.

Ia menambahkan, GDP negara anggota ASEAN saat ini mencapai USD 2,8 triliun. ASEAN memiliki populasi sekitar 650 juta dengan daratan yang luasnya lebih dari 1,7 mil persegi. Selain itu, situasi politik negara-negara ASEAN juga cukup stabil.

Pada acara resepsi yang dihadiri sekitar 90 Indonesianis dan Dubes dari negara anggota ASEAN ini, Dubes Oegroseno juga menceritakan tentang perkembangan hubungan bilateral Indonesia dan Jerman. Ia menjelaskan bahwa Indonesia akan menjadi Partner Country Hannover Messe 2020 mendatang.

Prof. Vincent Houben dari Universitas Humbold, yang juga sebagai penyeleggara Konferensi EuroSEAS mengapresiasi fasilitasi KBRI Berlin untuk penyelenggaraan resepsi para Indonesianis ini. Ia menyebutkan bahwa hal tersebut sejalan dengan apa yang ingin dicapai dari penyelenggaraan Konferensi EuroSEAS tersebut.

“Justru ini adalah salah satu tujuan utama kita menyelenggarakan Konferensi EuroSEAS. Tahun ini 700 peneliti dari seluruh penjuru dunia hadir, dan merupakan jumlah terbanyak sepanjang sejarah konferensi EuroSEAS. Kita ingin mendorong supaya para peneliti dapat mempertajam penelitian mereka melalui dialog dan interaksi langsung dengan sebanyak mungkin peneliti dari Asia Tenggara. Dan salah satu yang terpenting di antaranya adalah Indonesia. Mereka yang lebih mengerti realita dan kondisi yang sebenarnya,” ujar Prof. Houben.

Annisah Smith, peneliti dari Universitas Malaya, Malaysia sempat menanyakan tentang isu kelapa sawit. Ia sebutkan bahwa sentimen anti sawit yang digemborkan Uni Eropa sangat berdampak terhadap Indonesia dan Malaysia. Menanggapi hal ini. Dubes Oegroseno menjelaskan bahwa isu sawit di Eropa sangat kental muatan politisnya. Sikap Eropa ini justru dinilai sebagai bentuk diskriminasi terhadap produsen sawit di Asia Tenggara.

“Saat ini terdapat 12 juta ton sawit berkelanjutan. Namun EU hanya butuh 5 ton. Secara matematis sikap anti sawit dan alasan sawit tidak berkelanjutan menjadi tidak masuk akal,” jelasnya.

Di acara resepsi ini, Dubes Oegroseno juga mengajak para tamu yang hadir untuk mengheningkan cipta, mendoakan arwah Presiden RI ke-3, Prof. Dr. Ing BJ Habibie. Usai acara pembukaan, para peniliti saling berbincang dan bertukar pikiran sambil menikmati kuliner Indonesia yang disediakan KBRI Berlin. (*)

TANGGAPAN ANDA MENGENAI BERITA INI

Senang

0

Tidak Peduli

0

Marah

0

Sedih

0

Takjub

0

Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting

KOMENTAR TERBARU

X