
Jakarta - Presiden Rodrigo Duterte dari Filipina meminta maaf kepada orang-orang Yahudi di seluruh dunia pada Minggu setelah memperbandingan antara perang terhadap narkoba dan Holocaust.
Duterte mengatakan permintaan maafnya itu dimaksudkan hanya untuk orang-orang Yahudi. Namun tetap mengecam kritikan Barat dan pendukung hak asasi manusia yang telah menyuarakan keprihatinan atas tindakanya terhadap para pengedar narkoba atau pengguna.
Duterte mengatakan dalam sebuah pidato di pusat kota Bacolod ia tidak pernah bermaksud untuk mengurangi memori dari enam juta orang Yahudi."Saya meminta maaf mendalam untuk komunitas Yahudi," katanya dilansir New York Times, Senin, (3/10/2016).
Pada Jumat pekan lalu, Duterte dalam kampanye antinarkobanya membandingkan dengan Hitler dan Holocaust. "Hitler membantai tiga juta orang Yahudi," katanya. Kemudian ia menambahkan bahwa ada tiga juta pecandu narkoba di Filipina dan berkata, "Aku akan senang untuk membantai mereka."
Pemerintah Jerman menyebut komentar Duterte pada hari Jumat itu tidak dapat diterima. "Tidak mungkin untuk membuat perbandingan apapun untuk kekejaman dari Holocaust," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri, Martin Schaefer.
Presiden World Jewish Congress, Ronald Lauder pernyataan Duterte itu "menjijikkan" dan menuntut ia menarik ucapannya dan meminta maaf. "Penyalahgunaan obat adalah masalah serius," kata Lauder dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan dari Yerusalem.
"Tapi apa yang Presiden Duterte katakan tidak manusiawi, menunjukkan sebuah sikap tidak hormat bagi kehidupan manusia dan benar-benar memilukan bagi pemimpin yang terpilih secara demokratis dari negara besar."
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU