
Jakarta - Amerika Serikat menghentikan negosiasi gencatan senjata dengan Rusia dan menyalahkan Moskow untuk peran militernya dalam serangan di kota Suriah Aleppo.
Keputusan itu menyusul ancaman dari Sekretaris Negara AS John Kerry pekan lalu karena Washington semakin tidak sabar dengan Moskow terkait perang di Suriah.
"Ini bukan keputusan yang dianggap enteng," kata juru bicara Departemen Luar Negeri John Kirby dalam sebuah pernyataan dan menuduh Rusia gagal memenuhi komitmen pada perjanjian gencatan senjata di Suriah.
Juru bicara tersebut dilansir Xinhua, Selasa, (4/10/2016), juga menuduh Moskow dan Damaskus menargetkan daerah-daerah sipil dan infrastruktur penting seperti rumah sakit dan mencegah bantuan kemanusiaan untuk warga sipil yang membutuhkan.
Menanggapi keputusan Washington, Kementerian Luar Negeri Rusia mengatakan AS sedang mencoba menyalahkan Rusia.
"Washington telah gagal untuk hidup sesuai dengan komitmen di bawah perjanjian, untuk memfasilitasi bantuan kemanusiaan penduduk kota Aleppo ... (dan) untuk menerapkan tekanan pada kelompok oposisi bersenjata," kata juru bicara kementerian Maria Zakharova dikutip kantor berita RIA Novosti
Pada tanggal 10 September lalu, Rusia dan AS mengumumkan kesepakatan gencatan senjata nasional di Suriah yang kedua belah pihak berharap dapat mengakhiri lebih dari lima tahun pertumpahan darah di sana. Namun, baku tembak malah terjadi pada jam-jam pertama setelah kesepakatan gencatan senjata selama seminggu dan berakhir pada 19 September.
Presiden AS Barack Obama, dalam percakapan telepon dengan Kanselir Jerman Angela Merkel pekan lalu, menyinggung serangan udara oleh Rusia dan pemerintah Suriah di Aleppo.
Obama dan Merkel percaya Rusia dan pemerintah Suriah, “memikul tanggung jawab khusus untuk mengakhiri pertempuran di Suriah dan pemberian akses kemanusiaan PBB untuk enjangkau daerah-daerah di Suriah," kata pernyataan Gedung Putih.
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU