
hariansuara.com, Jakarta - Tiga dari empat anak-anak dan remaja Amerika Serikat(AS) yang tewas dalam penembakan selama dekade terakhir adalah korban kekerasan dalam rumah tangga dan umumnya meninggal di rumah mereka, menurut sebuah penelitian yang dirilis pada hari Kamis (21 Nov) oleh kelompok pengontrol senjata, Everytown.
Sementara momok penembakan di sekolah tampak suram di benak orang tua Amerika seperti penembakan di Newtown, Connecticut; Parkland, Florida, dan di seluruh negeri, kelompok pengontrol senjata ini menemukan jauh lebih banyak anak-anak yang terbunuh di rumahnya sendiri.
"Ini bukan tindakan kekerasan acak, namun orang-orang memiliki persepsi bahwa pembunuhan datang entah dari mana," kata Sarah Burd-Sharps, direktur penelitian Everytown.
Laporan Everytown dibuat berdasarkan catatan polisi dan pengadilan, serta laporan media dan menemukan bahwa 54 persen penembakan melibatkan penembak yang membunuh seorang anggota keluarga atau pasangan.
Sebanyak 1.121 orang tewas dalam 194 penembakan massal dalam dekade yang sepertiga di antaranya adalah anak-anak atau remaja. Hampir dua pertiga dari semua penembakan massal terjadi sepenuhnya di dalam rumah
Burd-Sharps berharap laporannya dapat membantu publik mendapatkan lebih banyak pemahaman tentang realitas statistik dari penembakan massal, yang didefinisikan sebagai insiden yang menewaskan sedikitnya empat orang, tidak termasuk penembak.
Hanya 1 persen dari hampir 35.000 kematian akibat senjata api rata-rata di Amerika Serikat setiap tahun dalam dekade terakhir melibatkan penembakan massal. Burd-Sharps mengatakan yakin penelitiannya dapat membantu mendorong undang-undang keselamatan-senjata yang dapat mengurangi kematian akibat senjata api di seluruh AS.(*)
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU