
Jakarta - Serangan mematikan yang dilancarkan pasukan koalisi yang dipimpin Saudi pada upacara berkabung di ibukota Yaman Sanaa, Sabtu lalu menuai kritik keras dari para pejabat republik Islam.
Menteri Pertahanan Iran Hossein Dehqan mengatakan pada Minggu, penguasa Arab Saudi yang "penjahat perang dan harus diadili" terkait serangan di ibukota Yaman Sanaa, Tehran Times melaporkan dilansir Xinhua, Senin, (10/10/2016).
"Mereka telah melakukan suatu kejahatan yang tak terampunkan yang seharusnya tidak diketahui oleh dunia," kata Dehqanm.
Pada Sabtu, laporan mengatakan serangan udara yang dipimpin Saudi yang mentargetkan Qaah al-Kubra menewaskan lebih dari 160 orang termasuk pemimpin militer dan pejabat pemerintah yang bersekutu dengan Houthi Syiah yang didukung Iran dan sekutu mereka mantan Presiden Yaman Ali Abdullah Saleh.
Ratusan lainnya, kebanyakan warga sipil, terluka dan banyak mayat terbakar dan berubah menjadi abu, kata saksi yang dekat tempat kejadian.
Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Shamkhani, mengatakan pada Minggu koalisi Saudi telah digunakan AS dalam serangan di Sanaa. Orang-orang Yaman pada upacara pemakaman dibom oleh senjata Amerika yang dikirim ke "tentara Saudi agresif," kata Shamkhani dalam sebuah pernyataan dan menekankan AS adalah "kaki tangan" dalam kejahatan ini dan harus bertanggung jawab untuk itu.
"Penjualan senjata ke Arab Saudi dan (Uni) Emirat memainkan faktor kunci dalam agresi militer terhadap Yaman dan pembunuhan di Yaman dan Barat harus menghentikannya," kata pejabat keamanan.
Shamkhani mengatakan opini publik Barat harus menyadari apa peran pemerintah mereka yang bermain di perang Yaman. Pada Sabtu, Juru bicara Kementerian Luar Negeri Bahram Qasemi menyatakan penyesalannya bahwa masyarakat internasional diam selama agresi militer koalisi dan pembunuhan terhadap orang tak berdosa.
“Dalam rangka mengakhiri krisis di Yaman, tidak ada cara tapi untuk menghentikan agresor berperang harus dimulai dialog serius dengan partisipasi dari semua pihak Yaman,” kata Qasemi.
Sementara itu, Koalisi yang dipimpin Arab Saudi telah membantah terlibat dalam serangan di Sanaa.
Huthi, bersekutu dengan pasukan yang Ali Abdullah Saleh, menyerbu Sanaa pada bulan September 2014, melawan apa yang mereka katakan sebagai "korupsi pemerintah Hadi." Mereka merebut Sanaa dan banyak bagian utara negara itu, memaksa Presiden Mansour Hadi dan pemerintahannya melarikan diri ke pengasingan.
Koalisi pimpinan Saudi meluncurkan kampanye udara militer terhadap Huthi dan pasukan Saleh pada 26 Maret 2015 untuk mengembalikan Hadi berkuasa dan merebut kembali ibukota. Serangan udara koalisi dan pertempuran darat menewaskan lebih dari 10.000 orang Yaman, sebagian besar anak-anak dan perempuan, melukai sekitar 35.000 orang lain dan menggusur tiga juta orang, menurut laporan PBB.
Arab Saudi dan sekutu Arabnya telah menuduh Iran mempersenjatai Houthi. Bulan lalu, sebuah surat Arab Saudi ke Dewan Keamanan PBB juga menuduh bahwa Iran mentransfer senjata kepada pejuang Houthi dan melanggar Resolusi PBB 2216.
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU