
Jakarta – Laporan halaman depan surat kabar Perancis Liberation pada Minggu memanggil Presiden Rodrigo Duterte sebagai presiden pembunuh berantai.
Menanggapi hal ini, Juru Bicara Presiden Ernesto Abella dalam sebuah wawancara radio mengatakan surat kabar itu sangat tidak bertanggung jawab. “Cara mereka mengatakan itu dan cara mereka sangat sembarangan menggunakan kata-kata ini." katanya dilansir Xinhua.
Dia mengatakan surat kabar itu itu tidak bertanggung jawab dan menunjukkan kurangnya pemahaman tentang situasi nyata di negeri ini. Abella mengatakan untuk waktu yang lama, pemerintah sebelumnya tidak mengatasi masalah narkoba ilegal. "Dan sekarang, itu menjadi masalah besar, sehingga langkah-langkah drastis harus diambil untuk situasi drastis," tegasnya.
Senada dengan Abella, dalam wawancara dengan DZMM, Menteri Dalam Negeri Mike Sueno mengatakan, surat kabar yang bilang Duterte sebagai seorang pembunuh berantai terlalu berlebihan.
"Mereka tidak mengerti masalah kita," kata Sueno dikutip philstar.com, Senin, (10/10/2016). Sueno juga mengkritik penggunaan istilah "pembunuhan di luar hukum," yang katanya berarti pembunuhan yang dibiarkan oleh pemerintah.”
Artikel, dengan judul Rodrigo Duterte, the serial killer president, menuduh regu kematian di Davao membantu mantan walikota membersihkan kota dari pemberontak.
Lebih dari 3.500 pecandu narkoba tewas selama tiga bulan terakhir masa pemerintahan Duterte, dengan lebih dari 1.500 tewas dalam operasi narkoba yang sah. Drug Enforcement Agency Filipina melaporkan 8.21 miliar peso telah disita selama 100 hari pertama pemerintahan Duterte. Tapi perang Duterte pada ancaman narkoba dikritik oleh PBB, Amerika Serikat dan Uni Eropa.
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU