
Jakarta - Dalam pesannya untuk Hari Internasional tahunan untuk Pengurangan Risiko Bencana, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Ban Ki-moon mengatakan mengakhiri kemiskinan sangat penting untuk menyelamatkan nyawa dan membatasi kerusakan dari bencana.
Ban mengungkapkan negara-negara miskin menanggung beban kematian akibat gempa bumi, tsunami, banjir, badai dan gelombang panas.
Analisis mengatakan lebih dari 7.000 bencana selama dua dekade terakhir, di mana 1,35 juta orang meninggal, menunjukkan 90 persen kematian mereka terjadi di negara-negara miskin dan pendapatan rendah.
Negara Karibia dimana Haiti dilanda gempa bumi dahsyat pada tahun 2010, kehilangan lebih banyak nyawa daripada negara lain antara tahun 1996 dan 2015, kata studi yang diterbitkan oleh Kantor U.N. untuk Pengurangan Risiko Bencana (UNISDR) pada hari Kamis.
Minggu lalu Haiti dilanda Badai Matthew yang menewaskan sedikitnya 1.000 orang dan menyebabkan sekitar 1,4 juta membutuhkan bantuan.
"Negara-negara berpenghasilan tinggi menderita kerugian ekonomi yang besar dalam bencana, tapi orang-orang di negara-negara berpenghasilan rendah membayar dengan hidup mereka," kata Ban dikutip kantor berita Reuters, Kamis, (13/10/2016).
Gempa bumi dan tsunami adalah pembunuh terbesar dalam 20 tahun terakhir, diikuti oleh bencana terkait iklim yang meningkat jumlahnya.
Ban memperingatkan ratusan juta orang berada pada risiko naiknya permukaan laut, gempa bumi, dan iklim dan cuaca ekstrem.
"Mereka tinggal di lahan marginal, di bawah lereng bukit tidak stabil atau garis pantai badai," katanya. "Inilah sebabnya mengapa memberantas kemiskinan penting untuk mengurangi risiko bencana."
September lalu, para pemimpin dunia sepakat untuk mengakhiri kemiskinan pada tahun 2030 sebagai bagian dari satu set baru tujuan pembangunan global. Bank Dunia mengatakan awal bulan ini, jumlah orang yang hidup dalam kemiskinan ekstrim turun di tahun 2013.
Rata-rata angka kematian di negara-negara berpenghasilan rendah adalah lima kali lebih banyak daripada di negara-negara berpenghasilan tinggi yang memiliki sistem peringatan dini yang lebih efektif dan kesiapan yang lebih baik, menurut Pusat Penelitian Epidemiologi Bencana yang mengumpulkan data.
UNISDR memuji contoh di negara-negara berkembang di mana upaya untuk melindungi orang sudah ada. Negara itu termasuk Fiji, di mana peringatan dini dan tindakan oleh otoritas membantu membatasi jumlah korban tewas menjadi 44 orang awal tahun ini dari Topan Winston, badai paling kuat yang melanda negara kepulauan Pasifik.
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU