
Jakarta - Presiden Filipina Rodrigo Duterte mengklarifikasi komentarnya tentang pemisahan diri dengan Amerika Serikat.
Dalam sebuah konferensi pers di Davao City, Duterte mengatakan, "Ini bukan pemutusan hubungan. Anda mengatakan pemutusan hubungan, Anda memotong hubungan diplomatik. Saya tidak bisa melakukan itu.”
"Mengapa? Hal ini demi kepentingan terbaik dari negara saya bahwa kita menjaga hubungan itu. Mengapa? Karena ada banyak orang Filipina di Amerika Serikat.”
Sebelumnya, Duterte saat berada di Beijing mengumumkan "pemisahan"hubungan dengan Amerika Serikat dalam bidang ekonomi dan militer dan menjalin hubungan lebih dekat ke Cina. "Dan mungkin Saya juga akan pergi ke Rusia untuk berbicara dengan Putin." Katanya.
Namun dalam sebuah pernyataan pada Jumat lalu, kantor Duterte mengatakan Filipina tidak punya niat untuk mengingkari perjanjian atau kesepakatan dengan sekutu.
Komentar Presiden adalah "penegasan bahwa kita adalah bangsa yang merdeka dan berdaulat, sekarang menemukan kesamaan dengan tetangga yang ramah dengan aspirasi bersama dalam semangat saling menghormati, dukungan dan kerja sama," kata pernyataan itu.
Menteri Perdagangan Ramon Lopez mengatakan kepada CNN, Filipina tidak akan berhenti melakukan perdagangan dan investasi dengan AS. “ (Duterte) telah memutuskan untuk memperkuat lebih lanjut dan menghidupkan kembali hubungan dengan China dan kawasan ASEAN,"kata Lopez.
Di Amerika Serikat, pernyataan Duterte memunculkan pertanyaan tentang peran negara dan hubungan di wilayah tersebut. Juru bicara Gedung Putih Josh Earnest menjelaskan komentar Duterte sifatnya sebagai "pribadi," "ofensif" dan "membingungkan."
Kedutaan Besar AS di Manila mengecam komentar Duterte menciptakan ketidakpastian yang tidak perlu. "Kami telah melihat retorika semacam ini, yang entah kenapa bertentangan dengan hubungan hangat yang ada antara Filipina dan orang-orang Amerika dan catatan kerjasama penting antara kedua pemerintah kami," kata juru bicara kedutaan Molly Koscina.
“Amerika Serikat akan menghormati komitmen aliansi dan kewajiban perjanjian, dan mengharapkan Filipina untuk melakukan hal yang sama.” katanya.
Filipina adalah sekutu utama AS di kawasan itu dan Washington mendukung upaya mantan Presiden Benigno Aquino memperoleh pengakuan internasional untuk klaim Manila terkait wilayah Laut Cina Selatan yang secara ilegal diduduki oleh China.
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU