
Jakarta - Perdana Menteri Kamboja Hun Sen ingin calon presiden Donald Trump memenangkan pemilu AS pekan depan karena akan mengurangi ketegangan dengan Rusia dan baik bagi perdamaian dunia.
Hun Sen yang telah memerintah selama tiga dekade bereaksi keras atas kekhawatiran AS tentang keadaan hak asasi manusia dan korupsi di Kamboja.
Baru-baru ini, Amerika Serikat, Uni Eropa dan PBB menyatakan keprihatinan tentang meningkatnya ketegangan antara pemerintah Hun Sen dan oposisi menjelang pemilihan umum tahun 2018.
"Saya benar-benar ingin Trump menang," kata Hun Sen dalam pidatonya kepada ribuan petugas polisi pada upacara akademi polisi, dilansir Reuters, Kamis, (3/11/2016).
"Jika Trump menang, dunia akan berubah dan mungkin dalam situasi yang baik karena Trump adalah seorang pengusaha sehingga dia tidak ingin perang ... bisa ada persahabatan antara Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin," katanya.
Putin memuji Trump sebagai orang yang berbakat, sedangkan kandidat Partai Republik mengatakan bos Kremlin itu sebagai pemimpin yang lebih baik dari Presiden AS Barack Obama. Saingan Trump, Hillary Clinton menuduh Trump terlalu nyaman dengan Putin dan mempertanyakan kepentingan bisnisnya di Rusia.
Hun Sen, yang telah bertemu Clinton pada beberapa kesempatan termasuk dua kali ketika ia mengunjungi Kamboja sebagai Menteri Luar Negeri, mengkritiknya karena menyarankan Obama melancarkan serangan di Suriah.
Dia mengatakan hubungan antara Amerika Serikat dan Rusia mungkin memburuk jika Hillary memenangkan pemilu. Uni Soviet mendukung Kamboja selama satu dekade setelah China yang didukung Khmer Merah diusir dari kekuasaan oleh pasukan Vietnam pada awal 1979.
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU