
Jakarta - Turki menghadapi ancaman teroris dari tiga organisasi yang berbeda dan membutuhkan dukungan Barat untuk menangani ini, kata Wakil Perdana Menteri Turki Numan Kurtulmus.
Berbicara di Chatham House,London, Kurtulmus menyebut Turki sebagai "pulau yang stabil" di wilayah bergolak tetapi menghadapi ancaman dari ISIS, kelompok militan Kurdi PKK dan pengikut ulama Fethullah Gulen yang dituduh oleh Ankara mendalangi kudeta yang gagal pada tanggal 15 Juli.
"Kami berperang dengan organisasi teroris, kami membutuhkan dukungan dari organisasi Barat," kata Kurtulmus dilansir Reuters, Sabtu, (26/11/2016).
Gulen membantah tuduhan itu dan mengutuk kudeta. Kudeta dan akibatnya juga memperburuk hubungan Turki dengan Barat, dan anggota parlemen Uni Eropa setelah minggu ini adanya penghentian sementara pembicaraan keanggotaan Uni Eropa dengan Turki karena reaksi "tidak proporsional" Ankara untuk kudeta gagal bulan Juli.
Pembuat kebijakan Turki mengatakan langkah tersebut akan terbukti lebih berbahaya bagi Eropa karena bisa membuka pintu untuk banjir pengungsi. Tapi Kurtulmus mengatakan Ankara tidak mengubah kebijakan luar negeri terhadap Barat.
"Turki memiliki satu sumbu dengan porosnya sendiri," katanya. "Turki akan terus melakukan diversifikasi kebijakan luar negeri yang multi-lateral dan mengevaluasinya sejalan dengan kepentingan nasional."
Dia mengatakan PBB telah kehilangan kemampuan untuk menyelesaikan masalah politik dunia.
"Paska perang dingin, itu bukan jenis tatanan dunia dan itu adalah jenis gangguan," kata Kurtulmus, mengutip konflik yang belum terselesaikan di Ukraina dan Suriah sebagai contoh.
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU