
Jakarta - Presiden terpilih AS Donald Trumph bersumpah akan menghancurkan kelompok teror radikal Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) setelah serangan di Jerman yang menyebabkan belasan warga sipil tewas.
Awal pekan ini truk menabrak sekelompok warga sipil di sebuah pasar Natal di Berlin dan menewaskan 12 orang dan melukai 50 lainnya. Sementara polisi di Jerman masih menyelidiki, Trump mengatakan ia yakin serangan itu dilakukan oleh teroris Islam radikal.
"ISIS dan teroris Islam lainnya terus membantai umat Kristen di masyarakat dan tempat-tempat ibadah mereka sebagai bagian dari jihad global mereka," kata Trump dalam sebuah pernyataan pada hari Senin. "Teroris ini, jaringan regional dan seluruh dunianya harus diberantas dari muka bumi."
Namun para ahli mengatakan Trump akan menyerang ISIS lebih keras dari pemerintahan Presiden Barack Obama, tetapi hal itu dapat menyebabkan lebih banyak korban sipil.
"Saya pikir Trump akan keras pada ISIS dan melepaskan kekuatan penuh militer Amerika. Dia bisa membom lebih berat dan tidak khawatir tentang bahaya sipil," kata Fellow Darrell dari Brookings Institution sebagaimana dilansir Xinhua, Kamis, (22/12/2016).
"Jika Muslim percaya bahwa Amerika Serikat terlibat dalam perang terhadap Islam, hal itu akan memicu serangan teroris tambahan di berbagai tempat di seluruh dunia," tambah West.
Sedangkan, menurut West, Obama lebih menahan diri dalam pertempuran melawan ISIS karena ia tidak ingin menyakiti warga sipil dan tidak ingin memprovokasi umat Islam di seluruh dunia. “Trump harus berhati-hati bahwa eskalasi melawan ISIS tidak menciptakan masalah baru," katanya.
Senada dengan West, Dan Mahaffee, Analis Pusat Studi Presiden dan Kongres, mengatakan Trump tampaknya menunjukkan dorongan lebih keras terhadap ISIS.
“Dorongannya akan jauh lebih berotot daripada Obama dalam hal kesediaan untuk meningkatkan serangan udara”, katanya.
“Mengingat indikasi awal serangan Berlin mungkin dilakukan oleh seorang pengungsi Muslim, Trump akan mengikat sikap yang pernah diusulkannya tentang imigrasi, permukiman kembali pengungsi, dan konsekuensi kebijakan domestik”.
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU