Login

Username / Email :
Password :
Forgot Password Sign Up
Belum memiliki akun? Daftar Sekarang!
Close [x]
Internasional

Oposisi Suriah Tolak Rencana Daerah Aman

Internasional
05 May 2017
Oposisi Suriah Tolak Rencana Daerah Aman

 

Astana - Oposisi bersenjata Suriah pada Kamis menolak rencana Rusia menciptakan daerah aman di Suriah. Mereka menganggap langkah itu ancaman terhadap keutuhan wilayah negara tersebut.

 

Mereka juga tidak akan mengakui Iran sebagai penjamin rencana gencatan senjata apa pun.

 

Turki, yang mendukung pemberontak Suriah, dan Iran, yang mendukung Presiden Suriah Bashar al Assad, membicarakan kesepakatan pada Kamis terkait rencana Rusia tersebut. Ini disambut Perserikatan Bangsa-Bangsa namun diragukan Amerika Serikat.

 

"Kami ingin Suriah menjaga keutuhannya," kata wakil perutusan oposisi Osama Abu Zaid setelah Rusia, Turki dan Iran menandatangani memorandum untuk menciptakan daerah aman. Ketiga negara itu menaja pembicaraan di ibukota Kazakhstan, Astana, untuk mengakhiri pertempuran di Suriah.

 

"Kami menentang kesepakatan pembagian Suriah. Kami bukan pihak yang setuju dan tentu saja kami tidak akan pernah mendukungnya selama Iran menjadi negara penjamin," kata Abu Zaid.

 

"Kita sudah memiliki kesepakatan di tangan kita, mengapa tidak diterapkan?"Katanya, mengacu pada kesepakatan gencatan senjata yang diumumkan oleh Rusia pada Desember yang sebagian besar diabaikan di dalam penerapan di lapangan.

 

"Mengapa kita sekarang membahas zona aman?..... Rusia tidak mampu atau tidak mau menerapkan janji yang mereka buat. Dan ini adalah masalah mendasar," tambahnya.

 

Rusia, Turki dan Iran tidak segera mengumumkan memorandum, membiarkan rinciannya tidak jelas. Namun zona aman tampaknya dimaksudkan untuk membuat suatu wilayah bebas konflik, membantu memperluas gencatan senjata dan berpotensi dipantau oleh tentara asing.

 

Departemen Luar Negeri AS mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa terjadi keragu-raguan terhadap keterlibatan Iran sebagai penjamin atas kesepakatan tersebut. Karena rekam jejak Damaskus atas kesepakatan sebelumnya.

 

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa dia mendorong rencana tersebut namun harus benar-benar memperbaiki kehidupan warga Suriah.

 

Menteri luar negeri Arab Saudi, Adel al-Jubeir, mengatakannya saat kunjungannya ke Washington, D.C., bahwa kerajaan tersebut mendukung penciptaan zona aman namun dia ingin melihat lebih rinci rencana itu.

 

Perunding Rusia Alexander Lavrentyev mengatakan bahwa di bawah rencana itu, Rusia dapat mengirim pengamat ke daerah aman tersebut. Dia mengatakan bahwa pemantau dari pihak ketiga dapat diundang menurut kesepakatan Iran dengan Turki. (*)

TANGGAPAN ANDA MENGENAI BERITA INI

Senang

0

Tidak Peduli

0

Marah

0

Sedih

0

Takjub

0

Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting

KOMENTAR TERBARU

X