
Pattani - Kelompok etnis Melayu pemberontak yang berusaha membentuk sebuah negara terpisah di Thailand Selatan dicurigai sebagai pelaku serangan bom mobil di luar sebuah supermarket di kota Pattani. Peristiwa itu melukai 60 orang, demikian informasi dari pihak berwenang, Selasa (9/5).
Aksi pemberontakan separatis telah berlangsung puluhan tahun di sebagian besar wilayah Provinsi Yala, Pattani dan Narathiwat yang mayoritas penduduknya adalah etnis Melayu-muslim.
Lebih dari 6.500 orang sejak 2004, menurut kelompok pemantau mandiri Deep South Watch.
Sebagian besar korban luka ringan diperbolehkan pulang setelah menerima pengobatan, namun 21 korban dengan luka yang lebih serius dirawat di rumah sakit, kata Arun Prasertsuk, Wakil Direktur Rumah Sakit Pattani mengatakan dalam sebuah siaran di saluran televisi setempat.
Ledakan tersebut menghancurkan bagian depan supermarket Big-C, menghamburkan puing-puing di area yang luas dan membubungkan asap hitam.
Gerilyawan pemberontak dicurigai melakukan serangan tersebut, kata wakil kepala polisi Rewat Srichantub.
Dia mengatakan bahwa pelaku bom diyakini telah melarikan diri sebelum ledakan. Peristiwa itu merupakan aksi bom mobil pertama di Pattani sejak Agustus 2016.
Juru bicara kementerian pertahanan Kongcheep Tantrawanit mengatakan bahwa pemerintah mengutuk serangan bom tersebut dan menganggapnya sebagai sebuah tindakan pelanggaran hak asasi manusia.
Serangan di Thailand selatan, wilayah yang berbatasan dengan Malaysia dan berpenduduk mayoritas Muslim, telah meningkat jumlahnya pada tahun ini. Sebelumnya enam tentara penjaga hutan tewas dalam serangan bulan lalu.
Pemerintah baru-baru ini menolak tawaran perundingan damai bersyarat dari salah satu kelompok pemberontak utama, Barisan Revolusi Nasional, yang menuntut adanya mediasi internasional. (*)
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU