
hariansuara.com, London - Pelaku bom bunuh diri yang menyerang Inggris Senin kemarin adalah remaja usia 22 tahun, Salman Abedi. Di depan petugas keamanan I Mauk Manchester Arena.
Ia meledakkan sebuah bom yang menewaskan 22 orang termasuk anak-anak berusia delapan tahun.
Disebutkan oleh Daily Mail, aksi terror tersebut yang terburuk sejak 12 tahun terakhir.
Ada klaim bahwa Abedi mungkin telah menghabiskan waktu di zona konflik Timur Tengah, di mana dia mungkin telah dilatih oleh teroris. Sementara dikabarkan juga, dia baru kembali dari perjalanan tiga minggu ke Libya sebelum pemboman tersebut.
Abedi digambarkan sebagai pemain sepak bola dan penggemar Manchester United yang penuh semangat. Kemarin, seperti dilansir Daily Mail, polisi melakukan peledakan terkendali di rumahnya di daerah Fallowfield di selatan Manchester. Pakar kimia terlihat di luar dengan instrumen spesial karena dikhawatiran remaja tersebut bisa memperoleh materi radioaktif.
Abedi sebelumnya telah melakukan perjalanan dengan kereta api dari London ke Manchester pada hari Senin. Ini menimbulkan kecurigaan bahwa dia mungkin telah bertemu dengan rekan-rekan konspirator atau dipasok dengan alat peledaknya oleh sang pembuat bom.
Menurut Mirror, Abedi berteman dengan Raphael Hostey. Ia dikenal sebagai Abu Qaqa al-Britani, yang bertugas sebagai perekrut ISIS sampai dia terbunuh pada tahun 2016 di Suriah oleh sebuah serangan tak berawak.
Polisi kemarin menemukan CCTV dari Abedi yang berjalan ke Arena Manchester dengan apa yang diyakini petugas sebagai bom buatan sendiri
Selain itu, polisi menanyai saudaranya Ismail, 23, karena dicurigai terlibat dalam pemboman tersebut.
Meskipun Abedi dikenal oleh petugas keamanan, dia tidak diawasi dan petugas tidak memiliki firasat bahwa dia sedang membangun sebuah bom.
Lahir di Manchester pada tahun 1994, Abedi anak ketiga dari empat bersaudara. Ayahnya Ramadan Abedi, seorang petugas keamanan di Bandara Manchester, awalnya mengungsi dari Libya ke London bersama istrinya Samia Tabbal, 50. Mereka kemudian pindah ke daerah Fallowfield di selatan Manchester dan menetap di sebuah rumah milik asosiasi perumahan. Sekitar dua mil dari lokasi serangan teror Senin malam.
Teman dan tetangga mengatakan Abedi tampak seperti remaja sepakbola biasa, penggemar berat Manchester United dan menghabiskan berjam-jam bermain game komputer di PS4. Tapi semuanya berubah pada tahun 2011. Ketika ayahnya tiba-tiba meninggalkan pekerjaannya dan keluarganya untuk berperang di Libya.
Beberapa jam setelah serangan yang dilakukan oleh Abedi, polisi menangkap saudaranya Ismail, 23, di luar Morrison di Chorlton, Manchester.
Ismail, yang bekerja sebagai asisten pengajar, memberi kelas bahasa Arab dan tehnisi IT di sekolah Al-Quran Didsbury. Ia pernah dilaporkan ke unit kontra-terorisme oleh anggota komunitas Muslim.
Abedi dan keluarganya dikenal di Masjid Didsbury yang tak jauh dari rumah sederhananya yang berharga sekitar 250 juta rupiah. Namun imam Masjid Didsbury, Mohammed Saeed mengungkapkan bahwa Salman berhenti pergi ke masjid pada tahun 2015 karena dia menolak komentar anti-IS.
“Salman dulu sering datang ke masjid. Dia tidak terlalu ramah terhadap saya karena dia tidak menyukai khotbah anti-IS saya.” Begitu ia mengaku. (*)
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU