
hariansuara.com, Guiyang, Guizhou - Uni Eropa merangkul China untuk bersama-sama mengatasi persoalan lingkungan global, setelah AS menarik diri dari Perjanjian Paris yang ditandatanganinya bersama sejumlah negara di Ibu Kota Prancis itu pada 2015.
"Saat ini ketika Presiden (AS) Trump sudah menyerahkan tanggung jawab dalam mengatasi persoalan global, maka tidak ada jalan lain bagi Uni Eropa, kecuali merangkul China," kata politikus Inggris John Leslie Presscott, di Guiyang, Provinsi Guizhou, China, Sabtu (17/6) malam.
Hal itu diungkapkan saatt memberi sambutan pada pembukaan simposium Forum Ekologi Global (EFG) 2017 oleh, Wakil Perdana Menteri Inggris periode 1997-2007.
"Uni Eropa sebagai konsumen ekonomi terbesar di dunia akan bekerja sama dengan China sebagai salah satu negara terbesar dunia untuk mengamankan Perjanjian Paris. Dan bersama-sama mengatasi persoalan lingkungan," kata anggota parlemen Inggris yang pernah duduk di jajaran Dewan Uni Eropa itu.
Di bawah pemerintahan Presiden Xi Jinping, Presscott menganggap China memiliki kemampuan untuk menjembatani kepentingan negara maju dan negara berkembang yang sedang menuju tahap pembangunan dengan perspektif ekologi.
"Di jajaran Dewan Uni Eropa yang beranggotakan 47 negara, saya telah menyusun kerangka kesepakatan antara negara-negara maju dan negara-negara berkembang. Untuk ditandatangani pada Konferensi Perubahan Iklim di Bonn (Jerman) bulan November mendatang," harapnya.
Presscott berharap agar ajang tahunan EFG di Guiyang yang berlangung pada 17-18 Juni itu bisa menghasilkan kesepakatan yang bisa diimplementasikan dalam mengatasi persoalan lingkungan.
Selain jajaran pejabat dari Pemerintah Provinsi Guizhou dan Pemerintah Kota Guiyang serta akademisi lingkungan hidup China, acara tersebut juga dihadiri sejumlah praktisi dan pakar lingkungan internasional. Di antaranya Presiden Wilderness Foundation Vence Marti, Presiden IUCN Zhang Xinsheng, UNESCO, dan WWF. (*)
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU