
hariansuara.com, Paris - Popularitas Presiden Prancis Emmanuel Macron turun menurut sebuah jajak pendapat yang baru-baru ini dilakukan.
Rating Presiden Macron turun menjadi 36 persen, angka ini menjadi yang terendah untuk 100 hari kerja presiden Perancis di era modern. Tingkat ketidakpopulerannya 10 poin lebih tinggi dari pendahulunya Francois Hollande, menurut sebuah jajak pendapat Ifop.
Menurunnya popularistas kontras mengingat suara 66,10 persen yang diperoleh Macron dalam pemilihan umum pada 8 Mei 2017.
Turunnya peringkat Macron disebabkan oleh kebijakan penghematan anggaran tahun 2017 yang diprakarsai oleh pemerintah, kepergian beberapa menteri dan pelaksanaan sebuah proyek untuk mewujudkan moralitas kehidupan politik negara tersebut.
Selain itu, adanya reformasi yang diprakarsai oleh pemerintah, terutama pengurangan subsidi perumahan sebesar 5 euro per bulan mulai bulan Oktober. Pengumuman tersebut telah memicu perdebatan di Perancis.
Bantuan perumahan menelan biaya 20 miliar euro (US $ 23,47 miliar dolar AS) tahun lalu, menurut data resmi. Perdana Menteri Prancis Edouard Philippe menekankan pentingnya mengurangi biaya bantuan perumahan.
Sementara itu, rencana Macron untuk memangkas pengeluaran anggaran pertahanan sebesar 850 juta euro (980,4 juta dolar A.S.) mendapat tentangan dari kepala angkatan bersenjata paling senior di Perancis Pierre de Villiers, yang mengundurkan diri pada bulan Juli.
Dalam sebuah wawancara dengan jurnal Prancis Le Figaro, Jerome Fourquet director of the opinion and strategy department of the French Institute of Public Opinion mengatakan, "Dari pidato kebijakan umum dan pengumuman pemotongan di berbagai kementerian, Macron berjuang dengan kenyataan yang rumit, "kata Mr Fourquet.
Skandal yang melibatkan beberapa menteri pemerintah juga merusak citra baru dalam opini publik dan menyebabkan penurunan tajam dalam rating popularitas Emmanuel Macron.
Lakukan login terlebih dahulu untuk menambah komentar dan voting
KOMENTAR TERBARU